Penulis : Fahmi Nurhafizh Ahmad

Dari Sini Kugapai Cita-Citaku, Oleh : Fahmi Nurhafizh Ahmad

Selasa, 05 November 2019 - 14:06:49 WIB
Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Ini adalah hari pertamaku melaksanakan Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2018/2019. Aku telah mempersiapkan segalanya, bukan hanya materi-materi pelajaran saja. Akan tetapi fisik, mental dan kesehatan pun telah aku persiapkan. Aku tak ingin nilai ujianku semester ini turun, sehingga akan menyebabkan peringkat I yang kuraih selama 3 semester berturut-turut menjadi hilang. Jika hal ini terjadi tentunya ayah dan ibuku akan kecewa. Terlebih lagi ayah, karena ayah adalah salah satu guru di sekolahku yang mengajar di kelas 6. Untuk tidak mengecewakan ayah, tentunya aku harus rajin belajar dan tak boleh lengah sedikit pun. Belajar merupakan suatu kewajiban yang harus aku lakukan agar semua apa yang aku cita-citakan tercapai. Selain belajar, ada beberapa aktivitas yang harus aku kurangi bahkan tidak aku lakukan. Seperti bermain sampai lupa waktu, menonton televisi dan tidur larut malam. Selama satu minggu ini, aku harus melewatkan acara televisi yang menjadi kesukaanku yaitu Film Tayo dan Tobot di Rtv. Dan satu hal yang selalu diingatkan ayah adalah untuk tidak bermain handphone. Ayah selalu memberikan nasihat kepadaku bahwa handphone tidak baik untuk anak seusiaku. Selain bisa merusak kesehatan mata juga bisa merusak saraf otak.

Pukul 07.15 Wib, kukayuh sepeda hitech berwarna merah kesayanganku. Sepeda ini adalah hadiah ulang tahun yang diberikan ayah 2 tahun lalu. Saat itu aku masih sekolah TK, ayah sudah mengajariku naik sepeda. Aku belajar sepeda menggunakan sepeda kecil yang ada roda bantunya. Sepeda itu milik tetanggaku yang sudah tidak dipakai lagi. Hampir setiap hari setelah pulang dari sekolah, aku belajar naik sepeda. Entah sudah berapa kali aku terjatuh dari sepeda. Bahkan pernah sampai kakiku berdarah karena sepeda yang kunaiki masuk ke parit. Tetapi, aku tidak merasa kapok dan juga putus asa. Malah sebaliknya karena ayah mengatakan, jika aku sudah pandai naik sepeda maka akan dibelikan sepeda baru. Betul saja, ayah menepati janjinya. Tepat di acara ulang tahunku yang ke-6, ayah membelikan sepeda baru untukku. Sekarang, sepeda ini selalu menemaniku baik saat bermain atau pergi ke sekolah. Sebenarnya, jarak antara rumahku dengan sekolah tidak begitu jauh, kira-kira sekitar 150 meter saja. Jarak itu, bisa saja kutempuh dengan berjalan kaki. Namun, aku sudah terbiasa menggunakan sepeda kesayanganku ini. Posisi rumahku dengan sekolah berhadapan, jadi aku bisa langsung lurus menuju ke sekolah. Kebetulan di depan rumahku ada jalan setapak menuju ke sekolah. Jalan inilah yang akan menjadi saksi perjuanganku menggapai cita-citaku.


Suasana sekolah masih tampak sepi. Langsung saja aku menuju tempat parkir yang berada diantara kelas 3 dan kelas 4. Ternyata sudah ada 2 sepeda yang terparkir di sana. Aku segera memposisikan sepedaku diurutan ke tiga. Berjejer di sebelah sepeda yang sudah terparkir lebih dulu. Tempat parkir ini cukup luas, diperkirakan panjangnya 7 meter dan lebarnya 6 meter. Sehingga bisa menampung sekitar 40 sepeda, jika posisinya diletakan berjejer di sebelah kanan dan kiri.
Beberapa waktu yang lalu, ayah pernah mengumpulkan seluruh siswa tepat di depan tempat parkir ini. Saat itu, aku tidak tahu apa maksud dan tujuan ayah mengumpulkan seluruh siswa. Setelah mendengarkan apa yang disampaikan ayah, barulah aku tahu maksud dan tujuannya. Ayah memberikan penjelasan bahwa salah satu penerapan disiplin yaitu di tempat parkir. Ayah pun menghimbau kepada seluruh siswa untuk menerapkan pembiasaan ini setiap hari.
Tepat pukul 08.00 Wib, bel pun berbunyi. Seluruh siswa langsung masuk kelasnya masing-masing, karena hari ini tidak dilaksanakan Upacara Bendera. Aku duduk di bangku paling kiri urutan pertama berhadapan langsung dengan meja guru. Suasana kelas tampak hening, tentunya pada hari ini seluruh siap telah siap untuk berjuang begitu juga denganku. Untuk mengawalinya kulantunkan doa kepada Allah SWT, agar senantiasa membukakan pikiranku serta memberikan kemudahan untuk mengerjakan soal-soal ujian.
Di hadapanku kini telah tersedia Lembar Soal Ujian Tema 1. Soal tersebut sebanyak 20 butir yang berbentuk pilihan ganda. Aku menjawab soal dengan hati-hati dan penuh keyakinan. Setelah selesai dikerjakan, kuperiksa kembali jawaban-jawaban yang telah kutulis pada Lembar Jawaban. Aku yakin dengan segala perjuangan yang telah kulakukan pasti bisa. Ayah pun sering memberikan nasihat kepadaku, jika kamu menginginkan sesuatu maka kamu harus berjuang dan berjuang. Karena usaha yang sungguh-sungguh tidak pernah menghianati hasil.
Seminggu sudah berlalu, kini aku menunggu hasil dari segala usaha dan perjuanganku. Kata orang menunggu itu adalah pekerjaan yang membosankan. Iya, tentu saja. Jika selama menunggu, aku hanya diam saja. Kucoba mengisi kegiatan dengan menulis puisi. Aku ingin menerbitkan buku kumpulan puisi karya sendiri seperti ayah. Bahkan, ayah juga telah menerbitkan banyak buku. Sebenarnya, aku juga ingin menjadi penulis buku seperti ayah. Terkadang, aku iri dengan ayah. Ayah selalu menulis, sepertinya bagi ayah tiada hari tanpa menulis.
Hari yang ditunggu pun tiba, semua siswa riang gembira karena hari ini adalah hari pembagian rapor. Seperti biasa, kuayunkan kaki mengayuh sepeda kesayanganku menuju ke sekolah. Aku berharap semoga hari ini membawa keberuntungan buatku. Tepat pukul 09.00 Wib, bel berbunyi sebanyak 4 kali. Itu adalah bel pertanda bahwa seluruh siswa harus berkumpul. Aku dan teman-teman segera menuju ke halaman depan kantor, di sana sudah berdiri bapak dan ibu guru.
Sebelum rapor dibagikan kepada siswa, terlebih dahulu diumumkan juara 1, 2 dan 3 dari setiap kelas. Tentunya, ini akan menjadi suatu kebanggaan dari siswa yang namanya dipanggil sebagai juara. Satu persatu siswa yang meraih juara 1, 2 dan 3 dari masing-masing kelas dipanggil. Kini giliran kelas 2, hatiku berdegup kencang saat Pak Budi Sulistyanto mulai memanggil nama dengan urutan mundur yaitu dari juara 3. Alhamdulillah, namaku dipanggil sebagai juara 1. Dengan hati riang, aku melangkah menuju ke depan untuk menerima piagam penghargaan. Piagam ini akan aku persembahkan kepada ayah dan ibuku. Karena merekalah yang telah memberikan semangat dan motivasi. Terima kasih ayah, terima kasih ibu.

Pulau burung, 29 September 2019


PROFIL PENULIS
Fahmi Nurhafizh Ahmad lahir di Pulau burung pada tanggal 22 Juni 2011. Anak ke-3 dari 4 bersaudara.Siswa kelas 3 SDN 013 Ringin jaya Kecamatan Pulau burung Kabupaten Indragiri hilir ini memiliki hobi menulis. Ia pun bercita-cita ingin menjadi seorang penulis terkenal yang bisa menghasilkan buku. Dua buah puisi hasil karyanya telah diterbitkan dalam buku "Goresan Kecil Tangan-tangan Mungil" yaitu buku antologi puisi karya siswa SDN 013 Ringin jaya Kec. Pulau burung Kab. Indragiri hilir. (*)





Tulis KomentarIndex
Berita TerkaitIndex