Foto : Tampak Prajurit Koramil 08/Mandah, Kodim 0314/Inhil saat beristrahat disela-sela kegiatan memadamkan api.

Kisah Prajurit TNI di Inhil, Bermalam di Hutan Padamkan Karhutla, Waspada Hewan Buas

Rabu, 11 September 2019 - 19:09:35 WIB
Share Tweet Google +
Loading...

MANDAH, Medialokal.co - Prajurit TNI AD masih berjibaku memadamkan api disebabkan kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) yang terjadi di Parit 1 sampai dengan Parit 3 Dusun Bekawan Dalam, Desa Bekawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih terbakar.

Bahkan, pasukan berseragam loreng ini terpaksa bermalam di hutan demi memadamkan api.

Pjs Danramil 08/Mandah, Pelda Suriadi mengatakan, masih kesulitan mengatasi kebakaran lahan gambut.

"Sekarang di Parit 1, 2 dan 3 Dusun Bekawan Dalam, Desa Bekawan masih terbakar. Kami bermalam di hutan,"Kata Pelda Suriadi kepada medialokal.co, Rabu (11/09/2019).

Dia menyebutkan, sebanyak 4 orang prajurit Koramil 08/Mandah dibantu anggota Makodim 0314/Inhil yang tergabung Dalam Subsatgas 8 Tim 9 serta beberapa orang masyarakat tidur di hutan dengan mendirikan tenda.

"Saya bersama Serka Arafat, Serka H. Sitomorang, Serda Darmasyah dari Koramil 08/Mandah dan Anggota Makodim 0314/Inhil yang tergabung dalam Subsatgas 8 Tim 9 dengan peralatan seadanya terus berupaya memadamkan karlahut ini tidak peduli siang ataupun malam," ungkapnya

Selama di hutan, Lanjut Pelda Suriadi lagi, Kami terus melaksanakan penanganan kebakaran secara bergantian agar kebakaran tidak meluas, keselamatan pun diutamakan karena yang namanya hutan kan pasti banyak hewan buas.

"Kalau terlihat belum ada, tapi yang namanya hutan pasti ada hewan buasnya, maka dari itu kita jug selalu berjaga-jaga"

"Terus berdoa kepada Allah SWT berharap Akan Turunya Hujan Karna hujanlah yang dapat mengurangi luasnya kebakaran yang saat ini Terjadi di lokasi lahan parit 1 samlai parit 3 Dusun Bekawan Dalam Desa Bekawan apa lagi kebakaran ini dilokasi yang sumber air sangat minim, berbagai upaya telah kami lakukan untuk menggali sumur agar mendapatkan air untuk menyiram lahan," Jelasnya

Pemadaman kebakaran yang cukup luas dari parit 1 sampai parit 3 itu, prajurit harus bertaruh nyawa. Mereka terpaksa meninggalkan istri hingga makan seadanya di hutan.

Pelda Suriadi mengakui hal seperti itu sudah biasa bagi seorang prajurit TNI.

"Ya, itulah apa adanya, namanya juga di hutan. Kalau kami sih udah biasalah, tapi yang penting keselamatan dulu yang kami utamakan," ungkapnya

Dia mengatakan, prajurit bermalam di hutan karena jarak tempuk ke titik api sangat jauh. Tidak hanya jalan darat, tapi juga harus melewati sungai menggunakan perahu.

Untuk lokasi, jarak tempuh sekitar 30-45 menit naik perahu. Jika masuk dari Dari Kelurahan Mandah sekitar 35 menit ditambah jalan kaki 1 Kilo.

Tambah dia, dengan bermalam di hutan, pemadaman karhutla bisa lebih cepat dilakukan untuk mengatasi penyebaran titik api. Pemadaman dilakukan dengan menggunakan peralatan seadanya.

"Kita memang sangat terkendala apabila asap tebal. Karena tidak mudah memadamkan api di dalam gambut," akuinya.

Senada dengan Pjs Danramil 08/Mandah, Serka H. Sitomorang Babinsa Desa Igal juga mengatakan upaya pemadaman tidak hanya dilakukan oleh prajurit TNI saja, tapi juga bergabung dengan tim lainnya, dari kepolisian, Manggala Agni, BPND dan masyarakat tempatan.

"Namun, sangat jarang bertemu dengan tim lainnya karena pemadaman dilakukan dengan cara terpisah-pisah," ungkap H. Sitomorang.

Menurutnya, hingga saat ini tidak ada kendala yang signifikan di lokasi pemadaman. Hanya saja pemadaman api dalam gambut membutuhkan waktu yang sangat lama.

Untuk sumber air cukup. Kendalanya hanya asap tebal. Ditanya sampai kapan prajurit TNI bermalam di hutan demi memadamkan api, Serka H. Sitomorang mengaku belum bisa memastikan

"Ya, belum bisa dipastikan. Tergantung intruksi dari komandan Kodim lah nanti. Tapi kalau masih terbakar, gak ada hujan, ya masih malam di hutan," akuinya.

Tidak hanya itu, Serka H. Sitomorang menuturkan kembali pihaknya akan terus berupaya semampunya untuk melaksanakan pemadaman sekaligus pendinginan di lokasi kebakaran.

"Sejak dua hari terakhir, di Inhil terjadi titik Hosfot api terbanyak Oleh sebap itu kita harus Kompak serta kerjasama menyadarkan masyarakat dan merobah pola pikir masyarakat yang masih membuka lahan dengan membakar," ungkap Serka H. Sitomorang. (Adp)






Tulis KomentarIndex
Berita TerkaitIndex