Berikut Analisis Publikasi Hasil Pengukuran Stunting Untuk Tingkat Kecamatan Gaung Anak Serka Tahun 2022


Rabu, 21 Desember 2022 - 19:01:34 WIB
Berikut Analisis Publikasi Hasil Pengukuran Stunting Untuk Tingkat Kecamatan Gaung Anak Serka Tahun 2022 Berikut adalah grafik sebaran stunting di kecamatan Gaung Anak Serka.  

GAUNG ANAK SERKA, Medialokal.co - Perkembangan Sebaran Prevalensi Stunting

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 (dua) tahun. Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seharusnya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

Stunting disebabkan oleh banyak faktor dari berbagai macam sektor penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik.Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak. Faktor lainnya yang menyebabkan stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Intervensi anak kerdil (Stunting) memerlukan konvergensi program/intervensi dan upaya sinergis pemerintah serta dunia usaha/masyarakat. Pada tahun 2022, terdapat satu desa lokus stunting di wilayah kecamatan Gaung Anak Serka yaitu Desa Harapan Makmur. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat dan pemimpin daerah Kecamatan Gaung Anak Serka khususnya Desa Harapan Makmur untuk dapat memberikan intervensi yang baik sehingga Desa Harapan Makmur tidak lagi menjadi Desa Lokus Stunting.


Grafik prevalensi stunting Kecamatan tahun 2021 dan 2022

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di wilayah kecamatan Gaung Anak Serka, seperti Desa Harapan Makmur di tahun 2021 (13,6%) dan 2022 (2,3%). Hal ini menunjukkan adanya penurunan prevalensi balita yang mengalami stunting. Walaupun demikian perlu adanya peningkatan kerja sama lintas program dan lintas sektor serta komitmen dari semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapat lebih kompak lagi dalam menangani stunting di Desa atau kelurahan.

Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Gaung Anak Serka guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), antara lain yaitu kegiatan pelatihan kader posyandu untuk lebih meningkatkan kemampuan kader dan meningkatkan keakurasian data yang diberikan kader untuk pelaporran setiap bulannya, selain itu pemberian dan pemantauan evaluasi TTD (tablet tambah darah) pada remaja putri di sekolah, pemberian TTD untuk ibu hamil, pemberian makanan tambahan ( PMT) pada ibu hamil yang mengalami KEK (kurang energy kronik) dan balita yang mengalami gizi kurang, kunjungan rumah pada balita yang mengalami masalah gizi termasuk balita tidak dating timbang, pendidikan gizi untuk ibu hamil melalui kelas ibu hamil, IMD, pemberian vitamin A pada bayi dan balita, pemberian obat cacing, program Kesehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.

  1. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian

Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah kurangnya akses air bersih, jamban, masih rendahnya pemberian ASI Eklusif dan masih tingginya perilaku merokok. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilakun yang sulit untuk diubah. Selain itu perlu diperhatikan juga terkait dengan pemberian TTD pada remaja putri karena masih kurangnya pengawasan dalam konsumsi TTD remaja dan kurangnya motivasi diri atau pun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut. Serta masih rendahnya partisipasi masyarakat untuk datang ke Posyandu juga salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan.

  1. Perilaku Kunci RumahTangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah

Puskesms telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada tahun 2022 Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (PemberianMakananTambahan). Serta perlu lebih intensnya pendampingan terhadap keluarga yang beresiko stunting.

  1. Kelompok Sasaran Beresiko

Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin, IbuHamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putrid perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandung pun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting.

Pemerintah dikecamatan Gaung Anak Serka sangat mengharapkan dukungan dari berbagai sector untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di kecamatan Gaung Anak Serka melalui konvergensi Pencegahan Stunting yang akan dilaksanakan sebelum musrenbangdes. Pemerintah kecamatan dan desa diharap dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini. (*)