Foto bersama Ketua KNPI Inhil dengan Kalapas Tembilahan Indragiri Hilir – Senin (20/4/2026), langkah DPD KNPI Inhil menapaki Kantor Lapas Kelas II A Tembilahan di Jl. Prof. M. Yamin. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk merangkul. Ketua DPD KNPI Inhil Mahmudin, http://S.Pi., bersama Wakil Ketua MPI Achmad Mulyadi, http://M.Si, Bendahara Umum Nafarin, SE, Ketua Harian Sataril Gaffar, dan jajaran Wakil Ketua Bidang hadir membawa satu keyakinan: di balik tembok itu ada manusia yang masih layak diperjuangkan.
Disambut hangat Kalapas Prayitno beserta jajaran, pertemuan itu mengalir tanpa sekat. Tak ada seragam yang lebih tinggi, tak ada status yang lebih rendah. Yang ada hanya dialog dari hati ke hati, tentang bagaimana menjadikan Lapas bukan akhir cerita, tapi ruang untuk memulai lembaran baru.
Mahmudin bicara dengan suara pelan namun menusuk: “KNPI memandang Lapas bukan sekadar institusi pemasyarakatan, tetapi juga ruang pembinaan sumber daya manusia yang harus didukung secara kolektif. Kami melihat terdapat banyak peluang kerja sama yang bisa disinkronkan, seperti program pembinaan karakter kepemudaan, pelatihan keterampilan, hingga penguatan wawasan kebangsaan bagi warga binaan. Ini bagian dari tanggung jawab sosial pemuda dalam membangun optimisme dan harapan baru bagi mereka.”
Baginya, pemuda tak boleh menutup mata pada mereka yang tersandung. Sebab tugas pemuda bukan hanya berteriak di mimbar, tapi juga turun ke lorong-lorong sunyi tempat harapan nyaris padam, lalu menyalakannya kembali.
Achmad Mulyadi, http://M.Si., yang juga Ketua GM Pujakesuma Inhil, menegaskan dengan mata berkaca: stigma itu lebih kejam dari hukuman. “Saya menegaskan bahwa paradigma masyarakat terhadap Lapas perlu diluruskan. Masuk ke Lapas bukan berarti identik dengan nuansa negatif, melainkan justru menjadi ruang pembinaan mental, karakter, dan keterampilan. Harapannya, warga binaan yang keluar dari Lapas Kelas II A Tembilahan nantinya tampil sebagai pribadi yang lebih siap secara mental, lebih kuat secara karakter, dan memiliki keahlian yang dapat dimanfaatkan untuk membangun masa depan yang lebih positif.”
Ia meminta Lapas memetakan potensi tiap warga binaan. Sebab setiap manusia punya bakat. Ada yang tangannya pandai bertukang, ada yang otaknya cemerlang, ada yang hatinya lembut untuk berkarya. Tugas kita mengasah, bukan mengubur.
Kalapas Prayitno menyambut uluran tangan itu dengan lega. Baginya, membina tak bisa sendirian. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran KNPI sebagai representasi kekuatan pemuda daerah yang memiliki kepedulian terhadap proses pembinaan di Lapas. Sinergitas seperti ini sangat penting untuk membuka ruang program pembinaan yang lebih luas, sehingga warga binaan memiliki bekal mental, sosial, dan keterampilan yang lebih baik saat kembali ke tengah masyarakat.”
Ia menitipkan pesan paling mendayu untuk kita semua: “Menghimbau kepada masyarakat ketika ada warga binaan yang telah bebas atau keluar selesai menjalani hukuman jangan mereka dikucilkan dan jangan direndahkan, mari kita rangkul mereka dan kita kuatkan mereka agar mereka merasa ada dan tidak pernah merasa ditinggalkan.”
Dari pertemuan itu, janji ditanam. KNPI dan Lapas Kelas II A Tembilahan sepakat merancang program nyata: pemberdayaan, pembinaan karakter, pelatihan keterampilan. Agar saat pintu jeruji terbuka, yang keluar bukan manusia yang ciut, tapi manusia yang utuh.
Sebab sejatinya, tugas bangsa ini bukan menghukum seumur hidup. Tapi memanusiakan manusia, lagi dan lagi. Karena di balik tembok Lapas, masih ada air mata anak yang menunggu ayahnya pulang dengan kepala tegak. Masih ada ibu yang berdoa agar anaknya diberi kesempatan kedua.(*)