Kuindra – Kamis (23/4/2026) pukul 09.00 hingga 12.30 WIB, Babinsa Teluk Dalam Koramil 04/Kuindra, bergerak menyisir tapal batas. Di Desa Teluk Dalam, Kecamatan Kuindra, Kabupaten Inhil, langkahnya ditemani dua warga dan dua unit sepeda motor.
Patroli menyasar titik koordinat 0°18'34.8445"S 103°18'45.9894"E. Wilayah perbatasan itu diperiksa jengkal demi jengkal. Mata awas mencari bara, hidung siaga mengendus asap. Sebab satu titik api bisa jadi bencana bagi satu negeri.
Hasilnya melegakan. Nihil titik api dan asap. Langit Kuindra hari itu bersih. Tanah Teluk Dalam aman dari ancaman karhutla. Sebuah kabar yang lahir dari kerja senyap, dari patroli yang tak kenal lelah.
Bagi Babinsa Koramil 04/KDR, menjaga tapal batas adalah menjaga Indonesia. “Patroli ini bentuk komitmen kami. Tidak ada titik api, berarti kita berhasil mencegah. Ini bukti TNI bersama rakyat cinta negeri, cinta lingkungan,” tegasnya usai kegiatan.
Sinergi jadi kata kunci. Satu personel TNI dan dua masyarakat bergerak sebagai satu. Di atas dua SPM, mereka bawa pesan yang sama: hutan Inhil harus hijau, udara Inhil harus bersih, anak cucu Inhil harus bisa bernapas tanpa masker asap.
Patroli tapal batas bukan sekadar laporan harian. Ia ikhtiar nasionalisme. Ketika perbatasan dijaga, ketika hutan diawasi, maka kedaulatan tak hanya dijaga dari ancaman senjata, tapi juga dari bencana ekologis yang bisa melumpuhkan bangsa.
Situasi dilaporkan aman dan terkendali. Tak ada kepanikan di Teluk Dalam. Yang ada hanya kewaspadaan yang terjaga. Yang ada hanya gotong royong antara seragam loreng dan warga sipil untuk satu tujuan: Inhil tanpa asap.
Dari Koramil 04/KDR, langkah kecil ini bicara besar. Bahwa menjaga republik bisa dimulai dari desa. Bahwa nasionalisme hari ini diukur dari seberapa peduli kita pada hutan, pada udara, pada sesama anak bangsa.
Laporan ditutup dengan "mohon petunjuk". Namun langkah Babinsa dan warga Teluk Dalam sudah memberi arah: jika tapal batas dijaga bersama, maka Indonesia aman. Jika asap dicegah sejak dini, maka negeri ini selamat.(*)