Gaung – Kamis (23/4/2026) pukul 10.30 WIB, ruangan Kantor Desa Simpang Gaung tak seperti biasa. Di sana berkumpul harap. Camat Gaung Fauziah, S.K.M., M.K.M., Kapolsek Gaung AKP Edi Dalianto, Kades Simpang Gaung Samsul, http://S.Si., Bhabinsa Sertu Guntur Sampurna, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan wajah-wajah muda desa. Semua duduk sama rendah untuk satu tekad: jaga anak negeri dari jerat narkoba.
Kegiatan sosialisasi penyalahgunaan narkoba dalam rangka Operasi Antik digelar. Di wilayah hukum Polsek Gaung, perang ini tak ditembakkan dengan peluru. Tapi dengan kata, dengan ilmu, dengan pelukan kepedulian pada generasi muda.
AKP Edi Dalianto berdiri sebagai narasumber. Suaranya tenang, tapi menusuk kalbu. Ia urai UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ia sebut satu per satu jenisnya. Ia gambarkan dampaknya: tubuh yang remuk, mimpi yang patah, keluarga yang menangis, bangsa yang kehilangan putra terbaiknya.
“Ancaman hukumannya berat, tapi yang lebih berat adalah melihat anak-anak kita hancur sebelum sempat berjuang untuk Indonesia,” tegas Kapolsek Gaung. Kalimat itu menggantung di udara, mengetuk setiap dada yang mendengar.
Namun Kapolsek tak berhenti pada ancaman. Ia ajak bersatu. “Kami himbau kepada Tomas, Toga dan masyarakat Desa Simpang Gaung untuk bersama Polsek Gaung menciptakan situasi yang kondusif,” ujarnya. Sebab melawan narkoba tak bisa sendiri. Harus bersama, harus bergandeng tangan.
Ia juga pesan agar warga tak mudah terprovokasi isu negatif di media sosial. Apalagi ajakan unjuk rasa liar terkait dugaan peredaran narkoba. “Selalu memberikan informasi kepada Polsek Gaung baik langsung maupun melalui aparatur desa mengenai sitkamtibmas dan hal lainnya terutama menyangkut peredaran narkoba dan tindakan kejahatan lainnya,” tambahnya.
Dari Simpang Gaung hari itu, lahir janji sunyi. Patroli bersama Bhabinkamtibmas, Bhabinsa, dan aparatur desa akan terus digalakkan di titik rawan. Karena aman bukan ditunggu, tapi dijemput. Karena damai bukan diberi, tapi dijaga.
Pukul 12.00 WIB kegiatan usai. Aman, terkendali, tapi meninggalkan getar. Bahwa di desa sekecil Simpang Gaung, nasionalisme sedang ditulis. Bukan dengan baliho, tapi dengan langkah nyata: lindungi pemuda, maka lindungi masa depan Indonesia.
Sebab negeri ini terlalu berharga untuk diserahkan pada narkoba. Sebab anak-anak Gaung terlalu mulia untuk dikorbankan. Dan selama masih ada polisi yang merangkul, tokoh yang peduli, warga yang waspada, maka harapan itu tak akan pernah padam.(*)