Babinsa Koramil 07/Reteh Toleransi dan Gotong Royong Benteng Pertahanan Rakyat


Jumat, 24 April 2026 - 10:45:15 WIB
Babinsa Koramil 07/Reteh Toleransi dan Gotong Royong Benteng Pertahanan Rakyat

Reteh – Sertu Bendri, Babinsa Desa Pasanggrahan Koramil 07/Reteh, tak pernah lelah turun ke masyarakat. Pengawasan Sumber Daya Manusia bersama warga dan pemuda jadi agenda rutinnya. Bukan sekadar hadir, tapi membina, merangkul, dan menguatkan.

Kegiatan pembinaan SDM ini digelar untuk mempererat dan menjalin tali silaturahmi. Di balai desa, di warung kopi, di ladang, Sertu Bendri duduk sama rendah dengan warga binaannya. Obrolan mengalir, dari harga pupuk hingga cara menjaga kampung.

Bagi Sertu Bendri, silaturahmi adalah kunci. “Babinsa selalu menjelaskan pentingnya arti dan pentingnya rasa toleransi dan tolong menolong dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya. Kalimat itu ia ulang di setiap pertemuan, agar meresap jadi sikap.

Ia juga rutin tanya jawab dengan warga tentang pertahanan rakyat. “Karena peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di tingkat desa,” tegas Sertu Bendri. Baginya, TNI kuat karena rakyat, rakyat aman karena TNI peduli.

Di Desa Pasanggrahan, perbedaan bukan sekat. Sertu Bendri menanamkan itu. Harapannya, masyarakat lebih mengamalkan semboyan walau berbeda-beda tetapi tetap satu. Menjalin kekompakan dan kebersamaan dalam setiap langkah.

Toleransi, katanya, bukan teori di buku. Ia praktik di kehidupan. Membantu tetangga panen, menjaga rumah saat ditinggal, menengahi selisih paham kecil sebelum jadi besar. Dari hal sederhana itulah pertahanan rakyat dibangun.

Pemuda desa jadi ujung tombak. Sertu Bendri rangkul mereka. Ajak diskusi, ajak peduli. Karena pemuda yang paham toleransi dan gotong royong adalah benteng pertama NKRI di desa. Mereka yang akan jaga kampung saat Babinsa tak ada.

Selama kegiatan, suasana aman dan tertib. Tak ada jarak antara seragam loreng dan warga. Yang ada hanya kebersamaan. Yang ada hanya tekad: Pasanggrahan harus rukun, harus kompak, harus jadi contoh.

Dari Pasanggrahan, pesan untuk Indonesia bergema: pertahanan terkuat bukan di alutsista, tapi di hati rakyat yang saling menghargai. Dan selama Babinsa dan warga mau terus bersilaturahmi, maka aman itu bukan sekadar kata.(*)