Jumat Sore di Gaung, Kapolsek dan Camat Tanam Jagung: Demi Negeri yang Tak Lagi Lapar


Jumat, 24 April 2026 - 17:11:36 WIB
Jumat Sore di Gaung, Kapolsek dan Camat Tanam Jagung: Demi Negeri yang Tak Lagi Lapar

Gaung – Jumat (24/4/2026) pukul 15.00 WIB, langit Kuala Lahang menyaksikan harapan ditanam. Di RT 02 RW 06, Kecamatan Gaung, Inhil, sebutir demi sebutir benih jagung masuk ke tanah. Bukan sekadar tanam, tapi ikrar: kami siap jaga pangan negeri.

Penanaman Jagung Kuartal II dalam rangka mendukung Swasembada Pangan Tahun 2026 itu dihadiri wajah-wajah yang peduli. Camat Gaung, Sdri. Fauziah, S.K.M., M.K.M., berdiri di pematang. Kapolsek Gaung, AKP Edi Dalianto, turut turun ke lahan. Ketua LPM Kel. Kuala Lahang, Sdr. Sifik Jarlis, tak mau ketinggalan. Semua berkumpul di tanah milik Sdr. Anton Parhaka.

Satu hektare lahan dibuka. Tangan-tangan personel Polsek Gaung berbaur dengan masyarakat. Tak ada sekat pangkat, tak ada jarak seragam. Yang ada hanya keyakinan: dari Kuala Lahang, Indonesia bisa kenyang tanpa bergantung pada bangsa lain.

Ini program ketahanan pangan yang dikelola langsung oleh masyarakat Kelurahan Kuala Lahang. Jagung yang ditanam hari ini adalah jawaban atas keresahan harga, atas kegelisahan impor. Ia adalah doa yang ditanam, agar anak cucu kelak tak lapar di tanah yang subur.

Di titik koordinat 0.10336797 S, 103.33583515 E, benih itu dititipkan. Tanah Gaung yang basah menyambutnya dengan janji: akan ia tumbuhkan, akan ia besarkan, akan ia serahkan kembali untuk rakyat.

Kegiatan ini selesai pukul 16.30 WIB. Selama berlangsung, situasi aman terkendali. Tapi yang lebih penting: semangatnya tak selesai di pukul setengah lima. Ia terus hidup, di dada Anton Parhaka sang pemilik lahan, di hati Fauziah sang camat, di tekad AKP Edi Dalianto.

Sebab swasembada pangan bukan proyek satu hari. Ia kerja sunyi yang panjang. Ia keringat petani yang tak terlihat kamera. Ia adalah cinta paling sederhana: menanam hari ini agar esok tak ada yang menangis karena lapar.

Dari Kuala Lahang, pesan itu lirih namun kuat. Bahwa menjaga Indonesia bisa dimulai dari satu hektare jagung. Bahwa mencintai negeri bisa diwujudkan dengan cangkul, bukan hanya dengan pidato. Dan selama masih ada tangan yang mau menanam, maka harapan itu belum padam.(*)