Sertu Ramadhan: SPPG Kemuning Tua Berjalan Aman, Nihil Kendala


Sabtu, 25 April 2026 - 14:20:03 WIB
Sertu Ramadhan: SPPG Kemuning Tua Berjalan Aman, Nihil Kendala

Kemuning – Sabtu (25/4/2026), dapur SPPG Kemuning Tua Yayasan Bakti Anak Inhil tak pernah benar-benar sepi. Dari Desa Limau Manis, Lubuk Besar, hingga Talang Jangkang, aroma nasi putih dan ayam rendang menguar. Hari itu, 581 piring disiapkan. Bukan sekadar makan siang, tapi investasi untuk masa depan.

Menu basah hari itu lengkap: karbohidrat dari nasi putih, protein hewani ayam rendang, protein nabati tempe goreng tepung, serat dari lalapan timun, dan buah jeruk. Gizi seimbang, rasa nusantara. Sebab anak Inhil berhak tumbuh kuat, cerdas, dan sehat.

Sasaran pertama di Desa Lubuk Besar. SMPN 07 Kemuning terima 74 siswa dan 13 pendidik. SDN 003 Desa Lubuk Besar layani 162 siswa dan 12 pendidik. Total 261 jiwa di satu desa, kenyang dengan lauk yang sama, duduk semeja dengan harapan yang sama.

Sasaran kedua bergeser ke Desa Limau Manis. SDN 015 sambut 175 siswa dan 10 pendidik. Tawa mereka pecah saat kotak makan dibuka. Tempe goreng tepung jadi rebutan, jeruk jadi penutup yang menyegarkan. Di sanalah negara hadir lewat sepiring makanan.

Sasaran ketiga di Desa Talang Jangkang. SDN 016 Desa Talang Jangkang melayani 125 siswa dan 10 pendidik. Total penerima manfaat hari itu: 536 siswa dan 45 guru. 581 orang, 581 senyum, 581 alasan untuk terus berjuang.

Sertu Ramadhan, Koramil 09 Kemuning, yang memantau kegiatan SPPG Kemuning Tua menyampaikan, program ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. “Permasalahan menonjol nihil. Dokumentasi terlampir. Selama kegiatan, semua aman, tertib, dan tepat sasaran,” laparnya. Kalimat itu sederhana, tapi melegakan. Sebab setiap piring yang sampai adalah satu anak yang tak lapar saat belajar.

SPPG bukan sekadar proyek. Ia napas panjang pemerintah untuk melawan stunting, untuk memutus rantai gizi buruk. Ia bukti bahwa negara tak abai pada anak-anak di ujung kecamatan. Bahwa dari dapur di Kemuning Tua, masa depan Indonesia sedang dimasak.

Bayangkan 536 siswa itu 10 tahun lagi. Ada yang jadi dokter, guru, tentara, petani hebat. Dan mereka akan ingat: dulu ada ayam rendang dari SPPG yang temani mereka belajar. Ada jeruk yang buat mereka semangat ke sekolah. Gizi hari ini adalah prestasi esok hari.

Dari Limau Manis, Lubuk Besar, hingga Talang Jangkang, pesan itu mengalir: membangun negeri dimulai dari mengisi piring anak-anaknya. Merawat Indonesia dimulai dari memastikan tak ada siswa yang belajar dengan perut kosong. Dan selama SPPG terus berjalan, maka harapan itu tetap menyala.(*)