Reteh – Minggu (26/4/2026) pagi pukul 09.00 WIB, langkah Sertu Benri, Babinsa Koramil 07/RTH, kembali menyusuri Tapal Batas. Kali ini rutenya dari Parit 1 menuju Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, Inhil. Bersama dua warga, ia bergerak dengan dua unit SPM. Misi mereka sederhana tapi vital: memastikan tak ada api, tak ada asap.
Di titik koordinat 17.20.13.165° S, tiga pasang mata itu menyisir batas desa. Melewati jalan tanah, menembus semak, menatap langit. Mencari tanda yang paling ditakuti di musim kemarau: kepulan tipis yang bisa jadi petaka besar bagi paru-paru Inhil.
Patroli Tapal Batas bukan sekadar rutinitas. Ia adalah sumpah sunyi menjaga napas bumi Lancang Kuning. Sebab Sertu Benri paham, satu titik api yang lolos bisa hanguskan hektare hutan. Satu asap yang terlewat bisa buat ribuan anak batuk, sekolah diliburkan, ekonomi lumpuh.
“Untuk hasil tidak ditemukan titik api dan asap,” lapor Sertu Benri usai patroli. Kalimat pendek itu jadi kabar paling menyejukkan di tengah terik Reteh. Nihil berarti aman. Nihil berarti hari ini Pulau Kijang bisa bernapas lega.
Kekuatan patroli ini bukan pada jumlahnya. Hanya satu TNI dan dua masyarakat. Tapi semangatnya besar. Sebab mereka tahu, menjaga hutan tak bisa sendiri. Ia kerja gotong royong. Dari seragam loreng yang memimpin, hingga tangan warga yang paling paham lekuk tanahnya.
Dua unit SPM yang menderu mungkin tak seberapa. Tapi niat di baliknya luar biasa. Karena asap tak kenal batas administrasi. Jika Parit 1 terbakar, Pulau Kijang sesak. Jika Reteh berasap, Inhil menangis. Maka lebih baik letih berpatroli, daripada menyesal memadamkan.
Hasil nihil adalah kemenangan kecil yang harus dirayakan. Titik api dan asap nihil berarti anak-anak Reteh bisa main di halaman tanpa masker. Berarti nelayan bisa melaut dengan langit cerah. Berarti petani bisa ke ladang tanpa khawatir kabut kiriman.
Situasi aman dan terkendali. Tapi Sertu Benri tak mau terlena. Baginya, patroli harus terus berjalan. Hari ini nihil, besok belum tentu. Kewaspadaan adalah harga yang tak bisa ditawar untuk udara bersih.
Dari Parit 1 ke Pulau Kijang, pesan itu kembali bergema: hutan adalah paru-paru kita bersama. Menjaganya berarti menjaga hidup. Dan selama masih ada Babinsa dan warga yang mau melangkah bersama, maka harapan Inhil bebas asap tak akan pernah padam.(*)