Enok – Senin malam (27/4/2026) pukul 21.00 WIB, Warung Sudi Mampir di Jalan Pasar Inpres tak lagi sekadar tempat menyeruput kopi. Malam itu, warung kecil di Kelurahan Enok berubah jadi ruang kelas kehidupan. Jajaran Polsek Enok datang membawa satu misi: menanam benteng diri di dada warga, agar narkoba tak lagi punya celah.
PS Kanit Reskrim Polsek Enok, BRIPKA Khalid M. Ali, S.H., memimpin sosialisasi mewakili Kapolsek. Di hadapannya, puluhan pasang mata. Ada tokoh masyarakat, aparatur pemerintah, pemuda, hingga ibu rumah tangga. Semua duduk rapat, karena yang dibicarakan adalah musuh paling senyap: narkoba yang mengintai dari balik tawa nongkrong.
Kapolsek Enok, IPTU Parsaulian Simanjuntak, S.H., M.H., menitipkan pesan yang dalam. “Kami ingin membangun benteng diri yang kuat agar warga tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu penyalahgunaan narkoba,” ujarnya lirih namun menusuk kalbu. Baginya, benteng terbaik bukan jeruji, tapi kesadaran yang tumbuh dari dalam diri.
Ia mengurai pilu tentang tubuh yang rusak. “Seorang pemuda yang cerdas bisa hancur masa depannya hanya dalam hitungan bulan jika terjerumus narkoba. Karena itu, pemahaman akan bahaya ini harus ditanamkan sejak dini,” tegas IPTU Parsaulian. Otak yang layu, jantung yang lemah, hati yang luka. Semua dirangkai jadi peringatan, agar tak ada lagi anak Enok yang remuk karena serbuk setan.
Hukum pun ia buka seterang-terangnya. “Masyarakat harus tahu konsekuensi pidana yang sangat berat. Jangan coba-coba, apalagi menganggap remeh. Satu kali percobaan bisa membawa seseorang ke meja hijau,” ujarnya dengan nada serius. UU Nomor 35 Tahun 2009 ia bacakan bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyelamatkan. Sebab ancaman pidana mati bagi bandar bukan gertak sambal.
BRIPKA Khalid M. Ali, S.H. lalu membongkar cara kerja para pengedar. Warung, kafe, tempat nongkrong jadi sasaran. “Warga harus menjadi mata dan telinga kami. Jika melihat hal mencurigakan, segera laporkan ke polisi,” ajaknya. Malam itu, warga Enok diangkat jadi penjaga kampungnya sendiri.
Tanya jawab mengalir hangat. Seorang ibu bertanya tentang ciri pengguna tahap awal. Seorang pemuda bertanya soal rehabilitasi. Camat Enok, RAHLI, http://S.Sos., berjanji akan gerakkan lurah dan RT/RW patroli sosial. Lurah Enok, MARTILLAH, menitipkan pesan ke ibu-ibu: jaga anak, jaga pergaulan. Hadir pula KOPTU Adrian K, Ketua TSK ARAFAH, DATO Basri Efendi, pengurus masjid dan tokoh agama. Semua sepakat: perang lawan narkoba adalah perang semesta.
Pukul 22.30 WIB, doa bersama menutup malam. Doa yang lirih, tapi penuh harap. Agar Enok dijauhkan dari barang haram. Agar anak-anaknya tumbuh tanpa asap halusinasi. Situasi aman, tertib, kondusif. Tapi perjuangan belum usai.
Dari Warung Sudi Mampir, Kapolsek Enok berjanji: sosialisasi ini tak berhenti di sini. Ia akan menyisir titik rawan lain. Sebab benteng diri harus dibangun bata demi bata, warung demi warung, hati demi hati. Demi Enok yang bersih, demi Inhil yang berani berkata tidak pada narkoba.(*)