Kuindra – Selasa (28/4/2026) pukul 11.00 WIB, Kampung Pancasila di Kelurahan Sapat kembali hangat. Serda Erwin Savitri, Babinsa Koramil 04/Kuindra, hadir tanpa sekat. Duduk bersama warga, menyapa dengan senyum. Namanya Komsos, Komunikasi Sosial. Tapi bagi warga Sapat, itu adalah ruang untuk merasa didengar.
Di teras rumah warga, Serda Erwin Savitri menegaskan makna kehadirannya. Ia sampaikan pentingnya kegiatan Komunikasi Sosial di Kelurahan Sapat, Kecamatan Kuindra untuk mewujudkan bentuk kepedulian akan masyarakat di Kampung Pancasila. Kepedulian yang tak cukup diucapkan, tapi harus diwujudkan dengan datang, mendengar, dan merangkul.
“Babinssa menjelaskan bahwa Komsos juga dapat sebagai rasa bentuk kedekatan dalam menjalin silaturahmi, keakraban dan antara Babinsa dengan masyarakat di Desa Binaan,” tutur Serda Erwin Savitri. Baginya, loreng tak boleh berjarak. Keamanan desa lahir dari hati yang saling kenal, dari obrolan yang tulus, bukan dari perintah yang kaku.
Ia menolak Komsos dianggap rutinitas kosong. “Kegiatan ini tidak hanya sekedar rutinitas, serta juga bentuk amalan dari nilai-nilai luhur Pancasila baik dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bertanah air,” tegasnya. Pancasila di Sapat bukan hafalan upacara. Pancasila hidup di warung kopi, di gotong royong, di cara warga saling menegur.
Dari Komsos itu, Serda Erwin Savitri menanam falsafah tua yang tak pernah lapuk: asah, asih, asuh. “Kegiatan Komsos ini juga menciptakan saling asah, asih dan asuh, memupuk tali persaudaraan, saling bertoleransi, dan menanamkan jiwa patriot, serta menumbuhkan semangat cinta akan tanah air di Kampung Pancasila, khususnya wilayah Kelurahan Sapat Kec. Kuindra, Kab. Indragiri Hilir,” jelasnya.
Saling asah untuk mencerdaskan. Saling asih untuk menyayangi. Saling asuh untuk menjaga. Tiga kata yang jadi perisai Sapat dari perpecahan. Perisai dari hoaks yang memecah, dari paham yang mengoyak merah putih. Di Kampung Pancasila, toleransi bukan jargon. Ia praktik sehari-hari.
Warga menyambut dengan tangan terbuka. Sebab Babinsa yang mau duduk lesehan adalah Babinsa yang dipercaya. Bukan datang menghakimi, tapi datang merangkul. Bukan membawa curiga, tapi membawa solusi. Dari Komsos itu, keluhan soal keamanan lingkungan, soal pemuda, soal kerukunan, semua mengalir.
Selama kegiatan, suasana aman dan tertib. Tak ada jarak antara seragam dan sarung. Yang ada hanya komitmen bersama: Sapat harus tetap jadi rumah besar untuk semua suku, semua agama. Kuindra harus tetap jadi teladan damai di Bumi Inhil.
Dari Kelurahan Sapat, Serda Erwin Savitri mengirim pesan ke seluruh Inhil. Bahwa menjaga NKRI dimulai dari menjaga silaturahmi di kampung. Bahwa patriotisme tak harus angkat senjata. Cukup dengan rawat persaudaraan, cukup dengan jaga toleransi, cukup dengan cinta tanah air yang nyata.
Selama Serda Erwin Savitri masih mau datang pukul 11.00, masih mau mendengar tanpa menghakimi, maka Kampung Pancasila di Sapat akan tetap menyala. Menyala oleh nilai luhur, menyala oleh persatuan.(*)