Siang di Perigi Raja: Satu Loreng, Satu Warga, Jaga Tapal Batas Inhil dari Asap, Hasil Nihil


Selasa, 28 April 2026 - 13:49:26 WIB
Siang di Perigi Raja: Satu Loreng, Satu Warga, Jaga Tapal Batas Inhil dari Asap, Hasil Nihil

Kuindra – Selasa (28/4/2026) pukul 11.00 WIB, matahari tepat di atas kepala. Panas tak jadi alasan. Babinsa Perigi Raja Koramil 04/Kuindra bergerak bersama satu warga. Dua unit SPM meraung, membelah jalan setapak menuju tapal batas. Selama satu setengah jam, mereka menyisir titik koordinat 0°19'30,77618"S 103°18'45,8372"E. Mencari musuh yang tak kasat mata: titik api.

Patroli tapal batas bukan sekadar jalan-jalan siang. Ia adalah ikrar menjaga paru-paru Inhil. Sebab sekali lengah, satu puntung bisa jadi satu hektar. Sekali abai, satu desa bisa sesak napas. Itu yang membuat Babinsa Perigi Raja tak mau tinggal diam di Koramil saat kemarau mulai mengintip.

Satu TNI, satu masyarakat. Kekuatan kecil dengan tanggung jawab sebesar langit Inhil. Mereka sisir semak, mereka pantau parit, mereka tatap lahan-lahan rawan. Tak ada yang luput. Tak ada yang dianggap sepele. Karena Karhutla tak pernah kasih ampun pada yang menyepelekan.

Pukul 12.30 WIB, patroli usai. Kabar yang ditunggu pun datang. “Untuk hasil tidak ditemukan titik api dan asap,” lapor Babinsa Perigi Raja. Kata “nihil” yang pendek, tapi maknanya panjang. Nihil berarti anak sekolah Perigi Raja besok tetap bisa belajar tanpa masker. Nihil berarti udara tetap bersih untuk dihirup ibu-ibu dan balita.

Babinsa Perigi Raja menegaskan, hasil nihil hari ini bukan kebetulan. “Patroli ini kami lakukan rutin sebagai bentuk pencegahan dini. Alhamdulillah hari ini nihil titik api dan asap. Ini berkat kesadaran warga yang sudah tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Tapi kami tidak boleh lengah, patroli harus tetap jalan,” ujarnya. Baginya, sinergi TNI dan rakyat adalah kunci Inhil bebas asap.

Dua unit SPM yang dipakai bukan sekadar kendaraan. Ia simbol kehadiran negara di batas desa terjauh. Bahwa Perigi Raja tak sendiri menjaga tapal batas. Bahwa negara hadir, memastikan setiap jengkal tanah Inhil aman dari ancaman kabut.

Camat, lurah, dan tokoh masyarakat tak ikut hari itu. Tapi semangat mereka diwakili satu warga yang ikut patroli. Bukti bahwa menjaga Inhil bukan tugas loreng semata. Ia tugas bersama. Ia tanggung jawab semesta.

Situasi dilaporkan aman dan terkendali. Selanjutnya mohon petunjuk. Kalimat militer yang sederhana, tapi di baliknya ada dedikasi tanpa jam kerja. Ada komitmen bahwa selama masih ada asap yang mengintai, selama itu pula patroli akan terus digelar.

Dari Tapal Batas Perigi Raja, Inhil hari ini bisa bernapas lega. Nihil titik api adalah kemenangan kecil yang harus dijaga setiap hari. Sebab langit biru Inhil terlalu mahal untuk ditukar dengan segenggam abu.(*)