Reteh – Kamis (30/4/2026) pukul 09.00 WIB, langkah Sertu Johansah menyentuh tanah Kelurahan Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, Inhil. Babinsa Koramil 07/Reteh itu datang bukan untuk inspeksi kaku. Ia datang duduk bersama masyarakat dan pemuda Kampung Pancasila. Ada senyum, ada tawa, ada obrolan hangat tentang satu hal: menjaga Indonesia.
Kegiatan hari itu bertajuk Pengawasan SDM Kampung Pancasila. Tapi bagi Sertu Johansah, ini bukan sekadar istilah. “Babinsa Sertu Johansah Babinsa Kel. Pulau Kijang melaksanakan Pengawasan SDM di Kampung Pancasila bersama masyarakat dan pemuda di Kampung Pancasila,” begitu laporan yang sampai ke komando. SDM. Sumber Daya Manusia. Yang dirawat bukan mesin, tapi hati dan pikiran anak bangsa.
Di sela gurau, Babinsa menyelipkan makna. “Babinsa selalu menjelaskan pentingnya arti dan pentingnya Pancasila untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujar Sertu Johansah. Ia bicara tentang lima sila, bukan dengan nada menggurui. Ia bicara seperti bapak pada anaknya. Seperti kakak pada adiknya. Karena Pancasila memang harus sampai ke dada, bukan berhenti di hafalan.
Tanya jawab mengalir. Babinsa bertanya, pemuda menjawab. Warga bercerita, Babinsa mendengar. “Sambil bergurau Babinsa pun sering tanya jawab kepada warga binaan tentang pelaksanaan pertahanan rakyat karena peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di tingkat desa,” lanjut Sertu Johansah. Pertahanan rakyat. Bukan hanya urusan seragam loreng. Tapi urusan semua yang cinta kampungnya.
Kampung Pancasila di Pulau Kijang punya harapan. “Harapan masyarakat yang ada di Kampung Pancasila lebih bangga atas 5 sila yang ada di lambang Pancasila dan mengamalkannya dengan semboyan walau berbeda-beda tetapi satu juga Indonesia,” tegas Sertu Johansah. Berbeda-beda tetapi satu. Kalimat itu diulang, diingat, dihidupi. Karena di Kampung Pancasila, beda suku, beda agama, beda pilihan, tetap satu meja saat gotong royong.
Pembinaan SDM ini rutin digelar. Bukan untuk formalitas. Tapi untuk mempererat tali silaturahmi. Sebab desa yang kuat bukan desa yang pagarnya tinggi. Desa yang kuat adalah desa yang warganya saling kenal, saling jaga, saling percaya. Dan Babinsa hadir untuk merawat itu.
Selama kegiatan, suasana aman dan tertib. Tak ada sekat antara TNI dan rakyat. Ada canda, ada serius, ada janji untuk terus kompak. Sertu Johansah pulang membawa catatan kecil di hati: pemuda Pulau Kijang mau dengar, mau belajar, mau jaga Indonesia dari kampungnya sendiri.
Dari Pulau Kijang, pesan itu mengalir ke seluruh Inhil. Bahwa Pancasila bukan milik buku pelajaran. Ia milik setiap obrolan di teras. Ia milik setiap pemuda yang tak mau bangsanya pecah. Dan Sertu Johansah sedang menjaga api itu, agar tak padam diterpa zaman.
Kampung Pancasila bukan sekadar nama. Ia adalah cara hidup. Cara untuk kompak, cara untuk bersama. Dan Kamis pagi itu, Pulau Kijang membuktikan: selama Babinsa dan rakyat masih mau duduk bersama, NKRI akan baik-baik saja.(*)