Kamis Pagi di Benteng Barat: Serka Yadi Yanto Patroli Tapal Batas, Himbau Warga Jangan Bakar Lahan Demi Napas Inhil


Kamis, 30 April 2026 - 13:15:17 WIB
Kamis Pagi di Benteng Barat: Serka Yadi Yanto Patroli Tapal Batas, Himbau Warga Jangan Bakar Lahan Demi Napas Inhil

Sungai Batang – Kamis (30/4/2026) pukul 08.30 WIB, embun masih menempel di dedaunan Desa Benteng Barat, Kecamatan Sungai Batang, Inhil. Langkah Serka Yadi Yanto menyusuri tapal batas. Babinsa Koramil 07/Reteh Kodim 0314/Inhil itu datang bukan untuk menakut-nakuti. Ia datang membawa pesan: jaga hutan, jaga napas kita bersama.

Patroli pagi itu sunyi, tapi bermakna. “Babinsa Koramil 07/Reteh Kodim 0314/Inhil an. Serka Yadi Yanto pada hari Kamis 30 April 2026, pukul 08.30 Wib melaksanakan Patroli Tapal Batas Desa Benteng Barat Kec. Sungai Batang Kab. Inhil,” begitu laporan yang sampai ke Kodim. Tapal batas dijaga, karena dari sinilah api sering bermula. Dari lahan yang dibuka diam-diam, dari puntung yang dibuang sembarangan.

Serka Yadi Yanto tak hanya berjalan. Ia menyapa warga yang ditemui. Ia menitip pesan dengan bahasa yang sederhana. “Menghimbau kepada warga agar jangan membuka lahan maupun hutan dengan cara membakar karena akan merugikan diri kita maupun orang lain dan sangat mengganggu kesehatan kita semua,” ucap Serka Yadi Yanto. Merugikan diri sendiri. Merugikan orang lain. Mengganggu kesehatan semua. Tiga alasan yang cukup untuk berhenti bermain api.

Inhil tahu rasanya diselimuti asap. Anak-anak batuk. Sekolah diliburkan. Bandara ditutup. Ekonomi tersendat. Luka lama itu tak boleh terulang. Karena itu Serka Yadi Yanto turun. Ia ingin memastikan Benteng Barat tak jadi titik awal bencana. Ia ingin memastikan langit Sungai Batang tetap biru.

Patroli tapal batas bukan sekadar keliling. Ia adalah ikhtiar. Ikhtiar agar tak ada sejengkal tanah Inhil yang hangus sia-sia. Ikhtiar agar petani tak gagal panen karena lahannya terbakar. Ikhtiar agar nenek di rumah tak sesak napas karena kabut karhutla. Serka Yadi Yanto mengerti, mencegah selalu lebih ringan daripada memadamkan.

Warga Benteng Barat mendengar. Ada yang mengangguk, ada yang berjanji untuk ikut menjaga. Sebab mereka pun tak mau jadi penyebab derita. Sebab mereka pun punya anak, punya cucu, punya paru-paru yang butuh udara bersih. Babinsa hadir bukan sebagai polisi hutan, tapi sebagai saudara yang mengingatkan.

Selama patroli berlangsung, situasi aman dan terkendali. Tak ditemukan titik api. Tak terlihat kepulan asap. Dokumentasi terlampir, tapi yang paling penting: kesadaran ikut tercatat. Kesadaran bahwa hutan bukan warisan untuk dibakar, tapi titipan untuk dijaga.

Dari tapal batas Benteng Barat, Serka Yadi Yanto mengirim pesan ke seluruh Inhil. Stop bakar lahan. Stop bakar hutan. Karena satu korek yang dinyalakan sembarangan, bisa membakar ribuan hektar. Bisa merampas napas ribuan orang. Dan Kamis pagi itu, Benteng Barat memilih untuk peduli.

Inilah wajah Babinsa di musim rawan karhutla. Berjalan di pagi buta, menyapa warga, mengingatkan dengan hati. Tak mencari panggung, tapi hadir di titik yang paling rawan. Dan hari ini, Sungai Batang bisa bernapas lega karena seorang Serka Yadi Yanto memilih untuk tidak diam.(*)