Dari Sabang sampai Sorong, PDC Rangkul Talenta Negeri: 48 Kontrak Migas Dijaga Demi Kedaulatan Energi


Kamis, 30 April 2026 - 22:14:54 WIB
Dari Sabang sampai Sorong, PDC Rangkul Talenta Negeri: 48 Kontrak Migas Dijaga Demi Kedaulatan Energi

Jakarta – Di setiap tetes bahan bakar yang menghidupkan negeri, ada tangan-tangan Indonesia yang bekerja dalam sunyi. Mereka bukan sekadar tenaga alih daya. Mereka adalah penjaga energi. Dan PT Patra Drilling Contractor, PDC, berdiri di belakang 7.000 anak bangsa itu, memastikan roda migas Indonesia tak pernah berhenti berputar.

Kebutuhan tenaga kerja di industri migas Indonesia begitu besar. Rig butuh manusia. Terminal butuh manusia. Kilang butuh manusia. Maka PDC hadir sebagai jembatan. “Sistem ini bukan sekedar posisi sementara, melainkan jembatan strategis yang menopang operasional hulu dan hilir migas,” kata Manager Outsourcing Management PDC Rahmat Wijaya. Jembatan yang menghubungkan talenta Indonesia dengan ladang pengabdian bagi negeri.

Dari Palembang hingga Sorong, dari Indramayu hingga Tarakan, jejak PDC menapak. Kantor pusat di Jakarta, rig pengeboran di Sumatera, terminal BBM di Kalimantan, depot di Jawa, field terminal di Papua. Di mana ada energi Pertamina, di situ ada manusia PDC. Dari tenaga operasional, administratif, teknis, hingga support services. Dari yang tanpa keahlian hingga spesialis. Semua dirangkul, semua dibina.

Rahmat Wijaya menyebutnya layanan end-to-end. “Layanan Outsourcing Management ini bersifat end-to-end yang mencakup seluruh siklus pengelolaan tenaga kerja,” jelasnya. Mulai dari merencanakan, merekrut, melatih, menempatkan, menggaji, hingga memonitor. Semua dijalani dengan standar HSSE yang tinggi. Karena energi untuk negeri tak boleh dikelola dengan setengah hati.

Sejak 2014, PDC berjalan. Mendukung migas Indonesia dengan operation support, fuel handling, terminal operation, HSSE support, logistics, hingga maintenance. Hingga Maret 2026, 48 kontrak digenggam. Hampir 7.000 orang dipercaya. Angka yang bukan sekadar statistik. Itu adalah 7.000 keluarga yang hidupnya ditopang dari energi. Itu adalah 7.000 jiwa yang tiap hari memastikan dapur Indonesia tetap menyala.

Keunggulan PDC bukan hanya soal sistem. “Keunggulan layanan PDC terletak pada pengalaman yang luas di industri energi, penerapan standar HSSE yang tinggi dan terintegrasi, pemahaman mendalam terhadap sistem dan budaya kerja Pertamina,” tegas Rahmat. Tapi di atas itu semua, ada rasa memiliki. Karena PDC adalah bagian dari grup Pertamina. Darah merah putih mengalir di setiap SOP yang dijalankan.

Standar ISO 9001, sistem K3L, databased digital, recruitment system, performance management, payroll system. Semua diawasi, semua diaudit. “Seluruh proses tersebut dijalankan berdasarkan SOP dan SLA yang terukur serta diawasi melalui mekanisme monitoring dan audit berkala untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan kualitas layanan kepada klien,” imbuh Rahmat. Disiplin adalah wajah lain dari nasionalisme.

Bagi Rahmat, PDC bukan sekadar vendor. “PDC menjadi mitra strategis yang penting dalam pertumbuhan bisnis pelanggan karena kombinasi kemampuan operasional yang efisien, fokus pada kualitas SDM, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan klien.” Mitra. Kata yang berarti berdiri sama tinggi. Berjuang sama berat. Demi satu tujuan: energi untuk Indonesia berdaulat.

Di balik seragam pekerja PDC di rig Duri, di terminal Balikpapan, di kilang Balongan, ada cerita Indonesia. Cerita tentang anak bangsa yang tak mau negerinya gelap. Cerita tentang efisiensi yang lahir dari kerja keras. Cerita tentang 7.000 orang yang tiap hari memastikan bahan bakar negeri ini sampai ke tangan rakyatnya.(*)