Kuindra – Jumat (1/3/2026) pukul 11.00 WIB, Aula Kampung Pancasila di Kelurahan Sapat, Kecamatan Kuindra, Inhil, terasa hangat. Serka Surachman, Babinsa Koramil 04/Kuindra, duduk melingkar bersama warga. Bukan untuk perintah, bukan untuk inspeksi. Ia datang membawa hati, membawa obrolan, membawa semangat yang namanya Komunikasi Sosial.
“Babinsa Koramil 04/Kdr menyampaikan pentingnya kegiatan Komunikasi Sosial di Kelurahan Sapat Kecamatan Kuindra sebagai bentuk kepedulian Babinsa terhadap masyarakat di Kampung Pancasila,” begitu laporan yang dikirim ke Dandim 0314/Inhil. Kepedulian. Kata sederhana yang dijaga Serka Surachman dengan langkah nyata. Karena bagi Babinsa, desa binaan bukan sekadar wilayah. Ia adalah keluarga.
Serka Surachman menjelaskan makna Komsos lebih dalam. “Komsos juga sebagai wadah untuk menjalin silaturahmi dan keakraban antara Babinsa dengan masyarakat di Desa Binaan,” ucapnya. Silaturahmi yang tak putus. Keakraban yang tak dibuat-buat. Di Kampung Pancasila Sapat, TNI dan rakyat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Bagi Serka Surachman, Komsos bukan rutinitas kosong. “Kegiatan ini tidak hanya sekedar rutinitas, serta juga sebagai bentuk amalan dari nilai-nilai luhur Pancasila baik dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bertanah air,” tegasnya. Pancasila dihafal di sekolah, tapi di Kampung Pancasila ia dihidupi. Dalam tegur sapa. Dalam gotong royong. Dalam saling jaga.
Dari obrolan itu lahir asah, asih, asuh. “Dengan kegiatan Komsos ini dapat juga menciptakan saling asah, asih dan asuh, serta menciptakan tali persaudaraan dan menanam jiwa patriot, dan cinta akan tanah air di Kampung Pancasila, khususnya wilayah Kelurahan Sapat Kec. Kuindra, Kab. Indragiri Hilir,” lanjut Serka Surachman. Saling asah pikiran, saling asih menyayangi, saling asuh membimbing. Itulah Pancasila yang hidup.
Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda Sapat hadir. Mereka bicara, Babinsa mendengar. Babinsa bicara, mereka mengangguk. Tak ada sekat pangkat. Yang ada hanya niat sama: menjaga Sapat tetap rukun, menjaga Kuindra tetap damai, menjaga Inhil tetap utuh dalam bingkai NKRI.
Siang itu, nilai luhur bangsa ditanam pelan-pelan. Bukan lewat ceramah panjang. Tapi lewat duduk bersama. Lewat tawa yang tulus. Lewat cerita tentang kampung yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan cinta tanah air. Serka Surachman percaya, patriot tak lahir dari barak saja. Ia lahir dari kampung yang warganya saling peduli.
Pukul 11.00 WIB lewat, kegiatan selesai. Situasi aman dan tertib. Dokumentasi terlampir, tapi yang paling penting: rasa persaudaraan ikut terekam. Di hati warga Sapat. Di catatan harian Babinsa. Di laporan ke Dandim 0314/Inhil.
Dari Kampung Pancasila Sapat, Serka Surachman mengirim pesan. Bahwa Pancasila bukan milik monumen. Ia milik obrolan warung. Ia milik Komsos Jumat siang. Ia milik setiap warga yang masih mau saling sapa, saling jaga. Dan selama Babinsa masih mau duduk bersama rakyat, Indonesia tak akan kehabisan alasan untuk tetap satu.(*)