Serda Margono Patroli Tapal Batas, Nihil Api Nihil Asap Reteh Aman Terkendali


Kamis, 07 Mei 2026 - 11:21:10 WIB
Serda Margono Patroli Tapal Batas, Nihil Api Nihil Asap Reteh Aman Terkendali

Reteh – Kamis (7/5/2026) pukul 09.00 WIB, mesin SPM Serda Margono mulai menyala di Parit 5, Kelurahan Madani. Babinsa Koramil 07/RTH itu tak sendiri. Dua warga ikut membonceng. Tiga orang, dua motor, satu tujuan: pastikan Inhil hari ini tak dikepung asap.

“Pada Hari kamis Tgl 7 Mei 2026 pukul 09.00 WIB Babinsa Koramil 07/RTH, Serda margono melaksanakan Kegiatan Patroli Tapal Batas di parit 5 kel madani Kec Reteh http://kab.Inhil.” Laporan ke Dandim 0314/Inhil itu singkat. Tapi di lapangan, patroli ini pertaruhan. Karena kemarau belum selesai. Karena satu puntung bisa jadi bencana.

“Personil gabungan yang di kerahkan TNI 1 org, Masyarakat 2 orang. Alkap: SPM 2 unit.” Tak perlu pasukan besar. Cukup niat yang besar. Serda Margono menyisir batas. Mata awas ke semak. Hidung mencium udara. Tangan siap bertindak kalau ada asap naik. “Untuk Hasil tidak ditemukan titik api dan asap. Titik Api dan Asap Nihil.”

Kata nihil pagi itu jadi kabar paling melegakan. Nihil berarti anak Madani bisa napas lega. Nihil berarti sekolah tak perlu libur karena kabut. Nihil berarti ladang warga tak hangus sia-sia. “Situasi: Aman dan Terkendali, selanjutnya mohon petunjuk.” Aman karena dijaga. Terkendali karena warga mau ikut awasi.

Serda Margono berhenti di ujung parit. Ia kumpulkan dua warga yang ikut. “Saya bilang ke bapak berdua, jangan capek ingatkan tetangga. Jangan buka lahan pakai api. Kelihatan cepat, tapi ruginya lama. Asap naik, dosa naik, sawah tetangga ikut mati. Kita jaga sama-sama, biar Reteh tetap bisa hirup udara bersih,” tegasnya.

Patroli tapal batas bukan sekadar keliling. Ia pencegahan. Ia pesan. Ia bukti bahwa TNI tak tinggal diam saat langit Inhil terancam kelabu. Serda Margono tahu, kalau api sudah besar, semua terlambat. Maka ia pilih datang sebelum ada titik. Ia pilih cegah sebelum ada sesal.

Dua unit SPM kembali menyusuri jalan tanah Parit 5. Debu mengepul, bukan asap. Dan itu cukup jadi syukur. Di Madani, Kamis pagi ini, biru langit masih milik semua. Bukan karena kebetulan. Tapi karena ada yang mau panas-panasan memastikan tak ada bara tersembunyi.

“Patroli ini kerja kita semua. Saya cuma satu orang. Kalau masyarakat tak peduli, saya muter sampai bensin habis pun tak akan cukup. Tapi kalau bapak ibu ikut jaga, lihat asap langsung padamkan atau lapor, Inhil selamat,” ujar Serda Margono. Suaranya tegas. Tapi niatnya menjaga.

Dari Kelurahan Madani, Kamis pagi mengirim kabar ke Tembilahan: patroli tapal batas tuntas, titik api nihil, situasi aman terkendali. Dan selama Serda Margono masih mau keliling bersama warga, Reteh punya alasan untuk optimis. Optimis bahwa kemarau bisa dilewati tanpa batuk, tanpa masker, tanpa sesal.(*)