Tetes Darah, Senyum Anak, dan Detak Jantung Warga, Kisah Humanis Bakti Kesehatan Polres Inhil Sempena HUT Bhayangkara ke-80


Senin, 22 Juni 2026 - 14:15:54 WIB
Tetes Darah, Senyum Anak, dan Detak Jantung Warga, Kisah Humanis Bakti Kesehatan Polres Inhil Sempena HUT Bhayangkara ke-80

TEMBILAHAN – Senin pagi, 22 Juni 2026, Aula Rekonfu Polres Indragiri Hilir berubah wujud. Bukan lagi ruang rapat berderet kursi, tapi ruang kasih yang denyutnya sama dengan denyut nadi warga. Di sanalah Polres Inhil menggelar "Bakti Kesehatan Polri" sebagai rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 dengan tema "Polri untuk Masyarakat".

Acara dibuka langsung oleh Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora, S.H., S.I.K. Duduk bersamanya ada Ketua Bhayangkari Cabang Inhil Ny. Andini Farouk, Sekdis Kesehatan Ns. Matzen, SKM., M.Si., M.Kes, serta dr. Saud Pakpahan dari PMI Inhil. Tapi pagi itu, pangkat dan jabatan tak jadi penghalang. Semua larut dalam satu tujuan: mengobati dan menguatkan.

Doa dipanjatkan, sambutan disampaikan, lalu senyum merekah saat sesi foto bersama. Setelah itu, pintu-pintu pelayanan dibuka. Ada meja donor darah yang diserbu 73 pendonor. Ada ruang sunatan massal yang jadi saksi 9 anak pemberani menahan tangis demi tumbuh sehat. Ada tenda cek kesehatan gratis untuk 65 warga, dan ruang khusus pemeriksaan HPV DNA untuk 8 ibu yang ingin menjaga diri demi keluarga.

Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora S.H, S.I.K berdiri di tengah keramaian itu. Ia tak berpidato panjang. Ia hanya menyampaikan dari hati: “Kegiatan bakti kesehatan merupakan wujud nyata kepedulian dan pengabdian Polri kepada masyarakat melalui pelayanan kemanusiaan yang bermanfaat secara langsung”.

Lebih lanjut, AKBP Farouk berharap kegiatan ini jadi jawaban bagi warga yang membutuhkan. “Kami berharap kegiatan ini dapat membantu masyarakat yang membutuhkan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir,” ujarnya tulus.

Bagi Polres Inhil, Bhayangkara bukan hanya upacara dan defile. Bhayangkara adalah jarum suntik yang menyumbang darah, adalah pisau sunat yang membawa keberanian, adalah stetoskop yang mendengar keluh kesah warga. Melalui bakti kesehatan ini, Polri ingin menegaskan: kami hadir bukan untuk ditakuti, tapi untuk dirasakan manfaatnya.

Antusiasme warga membuktikan itu. Dari pagi hingga pukul 11.00 WIB, Aula Rekonfu tak pernah sepi. Ada TNI yang bergotong royong, ada tenaga kesehatan yang bekerja tanpa lelah, ada relawan yang membagikan air, dan ada ibu-ibu yang datang sambil menggendong anaknya. Semua bersinergi dalam satu irama kemanusiaan.

Setiap kantong darah yang terkumpul adalah nyawa yang diselamatkan. Setiap anak yang disunat adalah generasi yang lebih sehat. Setiap tekanan darah yang dicek adalah masa depan yang lebih panjang. Angka-angka itu bukan statistik, tapi cerita tentang cinta.

Polres Inhil ingin menunjukkan bahwa pelayanan "Presisi" tidak hanya soal hukum dan keamanan. Pelayanan Presisi juga soal hadir di meja periksa, soal menggenggam tangan anak yang takut disunat, soal menenangkan warga yang cemas dengan hasil cek kesehatannya.

Saat acara ditutup, Aula Rekonfu kembali hening. Tapi kehangatannya tertinggal. Polres Inhil telah menorehkan bukti nyata: di Hari Bhayangkara ke-80, seragam cokelat itu bukan hanya simbol wibawa, tapi juga simbol kasih. Sesuai janji mereka, "Polri untuk Masyarakat".(*)