Anggota DPRD Riau, Dodi Irawan saat membaca puisi di HUT Riau ke 69 Pekanbaru, ?Medialokal.co - Suasana Rapat Paripurna DPRD Provinsi Riau dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau, Minggu (9/8/2026), mendadak berubah. Dari ruang sidang yang semula berlangsung formal dan khidmat, suasana seketika menjadi penuh semangat ketika dua suara lantang menggema membacakan puisi "Laksamana Riau".
Dodi Irawan Bakaghojoo, anggota Komisi IV DPRD Riau dari Daerah Pemilihan (Dapil) Indragiri Hulu-Kuantan Singingi, bersama Iskandar Zulkarnain, Tenaga Ahli Bapemperda DPRD Riau, tampil membawakan puisi tersebut di hadapan para undangan.
Keduanya merupakan alumni Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau. Kolaborasi keduanya menghadirkan nuansa berbeda dalam agenda paripurna. Bukan sekadar rangkaian kata yang dibacakan, puisi itu seolah menjadi perjalanan singkat menyusuri sejarah, marwah, serta jati diri Melayu yang melekat kuat dalam denyut kehidupan masyarakat Riau.
Dodi menjelaskan, "Laksamana Riau" tidak semata-mata menghadirkan romantisme tentang kejayaan sejarah Melayu masa lalu. Lebih dari itu, puisi tersebut membawa pesan tentang pentingnya menjaga marwah, jati diri dan kebudayaan, sekaligus keberanian menghadapi berbagai persoalan Riau di tengah perubahan zaman.
"Puisi itu menjadikan sosok laksamana sebagai simbol kepemimpinan dan tanggung jawab generasi masa kini dalam menjaga warisan Melayu,” jelas Dodi yang diketahui berasal dari Batu Rijal asal Peranap Ini.
Dalam puisi tersebut, Lancang Kuning menjadi simbol yang begitu kuat. Kapal tradisional Melayu itu digambarkan terus berlayar, meninggalkan sungai, menuju muara, kemudian menembus luasnya samudera.
?Layar yang terkembang menjadi metafora perjalanan identitas Melayu. Sebuah perjalanan panjang yang tidak boleh berhenti hanya karena perubahan zaman, tetapi juga tidak boleh kehilangan arah dan akar budayanya.
?Pesan tersebut menguat melalui larik:
?"Lancang kuning janganlah karam,
?walau badai datang menerpa,
?selagi Melayu menjunjung alam,
?takkan hilang jati diri bangsa.”. ?Larik itu seolah menjadi denyut utama dari pesan yang hendak disampaikan. Bahwa badai perubahan boleh datang, zaman boleh berganti, dan tantangan boleh semakin besar, namun jati diri tidak boleh karam.
?Di tengah momentum Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau, puisi "Laksamana Riau" akhirnya bukan hanya menjadi selingan dalam sebuah rapat paripurna. Dodi Irawan menjelma menjadi pengingat bahwa kemajuan Riau tidak semestinya membuat masyarakatnya tercerabut dari akar sejarah dan kebudayaan Melayu.
?Dari ruang sidang DPRD Riau, suara puisi itu menggema membawa satu pesan dalam dalam, Riau boleh berlayar menuju masa depan, tetapi marwah Melayu harus tetap menjadi kompasnya. **