Ekspor Nikel Melejit ke US$34 M, Airlangga Dorong Industri Naik Kelas

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa (6/10).
Penulis: Ragil
Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:21:31 WIB

MEDIALOKAL.CO — Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan hilirisasi saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ekspor nikel olahan melonjak dari US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025, tetapi kontribusi industri pengolahan terhadap PDB masih 18,50 persen. Pemerintah menargetkan kontribusi industri kembali di atas 20 persen dengan menggenjot sektor di luar tambang.

"Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri," tegas Airlangga di Jakarta, Selasa (6/10).

Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin mendorong sektor manufaktur naik kelas, bukan hanya mengandalkan pengolahan bahan mentah tambang.

Industri Pengolahan Masih Jadi Tulang Punggung

Industri pengolahan saat ini menyumbang 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Industri nonmigas tumbuh 5,32 persen, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur kembali ekspansi ke level 52,4 pada September 2026 — tertinggi sejak Februari.

Meski begitu, Airlangga menilai kontribusi industri harus didorong kembali di atas 20 persen agar ekonomi tidak jalan di tempat. Caranya dengan menggenjot sektor di luar hilirisasi tambang, seperti otomotif, tekstil dan produk tekstil, serta fast moving consumer goods (FMCG).

Hilirisasi tetap menjadi senjata utama. Nikel menjadi contoh paling mencolok: nilai ekspornya melonjak dari US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025. Komoditas pertanian seperti sawit, karet, kelapa, dan perikanan juga masuk dalam peta jalan pengolahan.

Investasi Hilirisasi Menyebar ke Luar Jawa

Dalam peta jalan 28 komoditas, hilirisasi diproyeksi mendatangkan investasi US$618,1 miliar, ekspor US$857,6 miliar, dan nilai tambah US$235,9 miliar. Dampak pemerataannya mulai terlihat: 75,7 persen investasi hilirisasi pada Semester I-2026 berada di luar Jawa.

Pemerintah menyiapkan lompatan berikutnya menuju agroindustri bernilai tinggi, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan data center. Indonesia disebut punya modal lahan, energi hijau, dan air yang kompetitif untuk menarik investasi di sektor-sektor tersebut.

Ekonomi digital ASEAN lewat kesepakatan DEFA diprediksi naik dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun. Indonesia menguasai 40 persen di antaranya.

Jalan Menuju Pertumbuhan 8 Persen

Airlangga menyebut transformasi ekonomi perlu dilanjutkan dari pertanian menuju industri, kemudian menuju digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi. Tahapan itu dinilai menjadi kunci untuk membuka peluang pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Bagi pelaku usaha, arah kebijakan ini berarti insentif dan perhatian pemerintah tidak lagi hanya terpusat pada smelter nikel. Sektor padat karya seperti tekstil dan otomotif berpeluang kembali masuk prioritas, terutama untuk menahan tekanan global dan menjaga lapangan kerja.

Pemerintah kini berada di posisi harus membuktikan bahwa hilirisasi bisa berjalan berdampingan dengan industrialisasi yang lebih luas — bukan menggantikannya.

Reporter: Ragil