Kemuning – Mentari belum tinggi di Pasar Mingguan Desa Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir. Di antara lapak sayur, ikan segar, dan tawar-menawar warga, langkah Aiptu Mahmud Alhusori Nasution, S.H. pelan menyapa. Bhabinkamtibmas Polsek Kemuning Polres Inhil itu datang bukan untuk razia. Ia datang membawa pesan: agar pasar tetap jadi tempat yang aman, bukan cemas.
“Patroli sambang ke pasar Mingguan tersebut mempunyai tujuan untuk menyampaikan pesan-pesan dan himbauan kamtibmas kepada para pedagang maupun pengunjung pasar,” begitu catatan kegiatan. Karena pasar adalah nadi. Nadi ekonomi. Nadi pertemuan. Dan nadi itu harus dijaga agar tak disusupi niat jahat.
Aiptu Mahmud berhenti di satu lapak. Menegur ramah. Bertanya kabar. Lalu menitip pesan. “Dalam giat sambangnya Bhabinkamtibmas menyampaikan pesan Kamtibmas serta menghimbau kepada pedagang untuk menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif dan menghimbau kepada pengunjung pasar untuk hati-hati dan waspada akan berbagai tindak kejahatan.” Kalimat sederhana. Tapi di pasar, kewaspadaan adalah benteng pertama.
Pedagang mengangguk. Pengunjung menyimak. Sebab mereka tahu, copet tak pernah izin dulu. Penipuan tak pernah kirim undangan. Maka kehadiran Aiptu Mahmud seperti payung kecil di tengah riuh. Tak menutupi semua hujan, tapi cukup memberi rasa teduh.
Kapolsek Kemuning, KOMPOL M. Simanungkalit, S.H., M.H., membenarkan giat itu. Baginya, patroli sambang bukan sekadar jalan-jalan. “Dengan adanya kegiatan patroli sambang di lokasi keramaian, maka diharapkan akan semakin dekatnya antara Kepolisian khususnya Bhabinkamtibmas dengan seluruh lapisan masyarakat Kecamatan Kemuning guna melancarkan dalam pelaksanaan tugasnya untuk menciptakan situasi Kamtibmas yang aman kondusif,” imbuhnya. Dekat. Kata kunci yang ia jaga. Karena polisi yang dekat, lebih didengar daripada polisi yang jauh.
Di Pasar Mingguan Keritang, seragam cokelat itu melebur. Ia tak berjarak. Ia bertanya harga cabai. Ia mengingatkan dompet disimpan baik-baik. Ia menegur anak kecil agar tak lepas dari gandengan ibunya. Karena kamtibmas tak selalu soal borgol. Kadang ia soal kepedulian.
Patroli selesai. Pasar tetap riuh. Transaksi tetap jalan. Tapi ada yang berbeda: rasa aman yang diam-diam tumbuh. Sebab warga tahu, ada Aiptu Mahmud yang berjalan di antara mereka. Ada Polsek Kemuning yang tak membiarkan pasar jadi rimba.
Dari Keritang, pesan itu sederhana. Kejahatan bisa datang kapan saja. Tapi pencegahan bisa dimulai dari sapa. Dari senyum. Dari kehadiran. Dan selama Bhabinkamtibmas masih mau turun ke pasar, Inhil punya alasan untuk percaya: ekonomi bisa tumbuh, karena rasa aman lebih dulu tumbuh.(*)