Sinergi TNI-Rakyat di Metro Inhil: Patroli Tapal Batas, Hasil Nihil Titik Api Situasi Aman Terkendali


Sabtu, 02 Mei 2026 - 13:53:39 WIB
Sinergi TNI-Rakyat di Metro Inhil: Patroli Tapal Batas, Hasil Nihil Titik Api Situasi Aman Terkendali

Reteh – Sabtu (2/5/2026) pukul 09.00 WIB, embun belum kering di Parit Gantung, Kelurahan Metro, Kecamatan Reteh. Peltu Nofiandi sudah bersiap. Babinsa Koramil 07/RTH itu menghidupkan sepeda motor. Bukan untuk patroli biasa. Ia memimpin patroli tapal batas. Menjaga Inhil dari ancaman yang tak kasat mata: titik api.

“Pada Hari Sabtu Tgl 2 Mei 2026 pukul 09.00 WIB Babinsa Koramil 07/RTH, Peltu Nofiandi melaksanakan Kegiatan Patroli Tapal Batas di Parit Gantung Kel Metro Kec Reteh Kab. Inhil.” Laporan singkat ke Dandim 0314/Inhil itu menyimpan tanggung jawab besar. Karena satu percik di tapal batas bisa jadi asap yang menyeberang kabupaten.

Peltu Nofiandi tak sendiri. Dua warga ikut. Tiga orang, dua sepeda motor, satu tujuan. “Personil gabungan yang dikerahkan TNI 1 orang, Masyarakat 2 orang. Alkap: SPM 2 unit.” Mereka menyusuri batas. Mata menatap tajam ke semak, ke lahan, ke langit. Mencari musuh tak berwujud: asap.

Titik koordinat 17.20.13.165° S dicatat. Setiap jengkal tanah dipastikan. Karena bagi Peltu Nofiandi, patroli tapal batas bukan sekadar lewat. Ia adalah sumpah untuk menjaga. “Patroli ini bentuk kepedulian kami agar Inhil tetap biru. Kalau ada titik api sekecil apapun harus cepat kita padamkan. Jangan sampai jadi bencana,” ujar Peltu Nofiandi. Suaranya tenang, tapi menyimpan waspada.

Satu jam menyisir. Hasilnya melegakan. “Untuk Hasil tidak ditemukan titik api dan asap.” Kabar yang ingin didengar seluruh Inhil. Kabar bahwa Parit Gantung pagi itu aman. Bahwa langit Metro masih bersih. Bahwa anak-anak bisa bernapas tanpa masker.

“Kegiatan patroli dari pukul 09.00 s.d. Pukul 10.00 WIB. Hasil: Titik Api dan Asap Nihil. Situasi: Aman dan Terkendali.” Laporan itu bukan akhir. Ia awal dari komitmen. Bahwa tapal batas akan terus dijaga. Oleh seragam loreng dan warga sipil yang bahu-membahu.

Bagi Peltu Nofiandi, sinergi adalah kunci. TNI satu orang tak cukup. Tapi TNI bersama rakyat, Inhil kuat. “Kami libatkan masyarakat karena lahan ini milik kita bersama. Kalau terbakar, kita semua yang rugi. Makanya harus dijaga bersama,” tambahnya. Di Parit Gantung, cegah karhutla bukan jargon. Ia kerja nyata.

Pukul 10.00 WIB, patroli selesai. SPM diparkir. Tapi mata dan hati tetap waspada. Sebab musim bisa berubah. Angin bisa membawa bara. Dan selama Peltu Nofiandi masih mau berkeliling tapal batas, Inhil punya harapan: langit tetap biru, paru-paru tetap sehat.

Dari Reteh, pesan itu jelas. Karhutla dilawan bukan setelah terbakar. Tapi sebelum ada api. Dengan patroli. Dengan kepedulian. Dengan TNI dan rakyat yang tak lelah menjaga tanah kelahirannya.(*)