Serka Rizal Nst Sosialisasi dan Patroli Tapal Batas, Pastikan Langit Kemuning Bebas Asap
Kemuning – Senin (4/5/2026) pukul 10.00 WIB, mentari mulai meninggi di Desa Keritang Hulu. Serka Rizal Nst sudah hidupkan mesin. Babinsa Koramil 09/Kemuning itu bergerak. Bukan untuk perang. Tapi untuk jaga napas. Jaga agar langit Inhil tetap biru, tanpa asap yang mencuri udara.
“Pada Hari Senin 4 Mei 2026 pukul 10:00 WIB Babinsa Koramil 09/Kmg, Serka Rizal Nst Melaksanakan Sosialisasi Dan Patroli Tapal Batas di Desa Keritang Hulu, Kec Kemuning, Kab. Inhil.” Laporan ke Dandim 0314/Inhil itu singkat. Tapi maknanya panjang. Karena karhutla tak kenal jam kerja. Ia datang diam-diam, lewat satu puntung yang dibuang sembarangan.
Titik koordinat -0°30'52''S 103°22'56"E dicatat rapi. Serka Rizal tak sendiri. Satu anggota Polri dan empat warga ikut. “Personil Gabungan Yang Di Kerahkan TNI 1 Orang, Polri 1 Orang, dan Masyarakat 4 Orang. Alkap: SPM 2 unit.” Enam orang, dua motor, satu tujuan: menyusuri tapal batas, menyapa ladang, memastikan tak ada bara yang menunggu angin.
Di sela patroli, Serka Rizal berhenti di beberapa rumah warga. Sosialisasi jadi senjatanya. “Kita ingatkan terus ke masyarakat. Jangan buka lahan dengan bakar. Rugi kita semua kalau asap naik. Anak-anak batuk, sekolah tutup, ekonomi susah. Lebih baik cegah dari sekarang daripada padamkan nanti,” ujar Serka Rizal Nst. Suaranya tegas, tapi penuh kepedulian seorang bapak pada kampung halamannya.
Dua puluh menit menyisir batas kebun dan parit. Mata awas menelisik. Hidung mencium udara. Hasilnya menenangkan. “Untuk Hasil Tidak Ditemukan Titik Api Dan Asap.” Kalimat itu seperti embun. Menyejukkan. Sebab satu titik api yang nihil hari ini, adalah puluhan paru-paru yang sehat esok hari.
“Situasi: Aman dan Terkendali.” Aman karena dijaga bersama. Terkendali karena warga mau peduli. Dan itu tak datang tiba-tiba. Ia lahir dari kebiasaan menyapa, mengingatkan, dan berjalan beriringan antara TNI, Polri, dan rakyat. “Kita ini satu. Kalau masyarakat ikut awasi, ikut lapor, Inhil pasti aman dari karhutla,” tambah Serka Rizal.
Pukul 10.20 WIB, mesin dimatikan. Tapi kewaspadaan tak ikut berhenti. Karena kemarau belum usai. Karena kelengahan bisa datang kapan saja. Dan selama Serka Rizal Nst masih mau keliling Keritang Hulu di hari Senin, Kemuning punya alasan untuk yakin: udara bersih bukan mimpi.
Dari Kecamatan Kemuning, pesan itu mengalir sederhana. Karhutla dilawan sebelum menyala. Dengan patroli. Dengan sosialisasi. Dengan enam orang yang mau panas-panasan demi satu kata: nihil. Nihil titik api. Nihil asap. Nihil air mata karena sesak napas. (*)


Berita Lainnya
Dugaan Tempat Rehabilitasi di Batam Tuai Tanda Tanya, Dokumen Domisili Tak Ditemukan
Di Baris Cabai Parit 7, Polsek Tempuling dan Muhibbah Menenun Swasembada
Dari Cabe hingga Jahe Merah, Personel Polsek Enok Pacu Produktivitas Lahan Lorong Veteran
Enok Bergerak: Dari Lorong Baru ke Dapur Warga, Polri Pacu Ketahanan Pangan Nasional
Polsek Enok Gaspol Kawal Pekarangan Produktif, Terong dan Serai di Lorong Baru Jadi Amunisi Pangan
Memasuki Musim Kemarau, Polsek Koto Gasib melakukan monitoring Ketahanan Pangan
Dugaan Tempat Rehabilitasi di Batam Tuai Tanda Tanya, Dokumen Domisili Tak Ditemukan
Di Baris Cabai Parit 7, Polsek Tempuling dan Muhibbah Menenun Swasembada
Dari Cabe hingga Jahe Merah, Personel Polsek Enok Pacu Produktivitas Lahan Lorong Veteran
Enok Bergerak: Dari Lorong Baru ke Dapur Warga, Polri Pacu Ketahanan Pangan Nasional
Polsek Enok Gaspol Kawal Pekarangan Produktif, Terong dan Serai di Lorong Baru Jadi Amunisi Pangan
Memasuki Musim Kemarau, Polsek Koto Gasib melakukan monitoring Ketahanan Pangan