Serka Yadi Yanto Patroli Tapal Batas, Himbau Warga Jangan Bakar Lahan Demi Udara Sehat


Reteh – Senin (5/5/2026) pukul 08.30 WIB, embun masih menggantung di Parit 4 Kelurahan Pulau Kijang. Serka Yadi Yanto melangkah pelan. Babinsa Koramil 07/Reteh Kodim 0314/Inhil itu datang bukan untuk memerintah. Ia datang untuk menjaga. Menjaga agar asap tak lagi jadi kabut yang mencuri napas anak-anak Reteh.

“An. Serka Yadi Yanto pada hari Senin 5 Mei 2026, pukul 08.30 Wib melaksanakan Patroli Tapal Batas di Parit 4 Kelurahan Pulau Kijang Kec. Reteh Kab. Inhil.” Laporan itu sederhana. Tapi di baliknya ada tekad: memastikan satu meter pun tanah Inhil tak terbakar sia-sia.

Langkahnya menyusuri batas kebun dan parit. Mata menelisik setiap sudut. Hidung menghirup udara pagi, memastikan tak ada bau hangus yang mengintai. Di tiap rumah yang dilewati, ia berhenti. Menyapa. Mengingatkan. “Menghimbau kepada warga agar jangan membuka lahan maupun hutan dengan cara membakar karena akan merugikan diri kita maupun orang lain dan sangat mengganggu kesehatan kita semua.”

Kalimat itu ia ulang dengan sabar. Karena Serka Yadi tahu, satu api kecil bisa jadi bencana besar. “Saya bilang ke bapak-bapak di sini, kalau lahan dibakar, yang rugi kita juga. Asap masuk rumah, anak batuk, sekolah libur, kebun tetangga ikut kena. Lebih baik capek sedikit bersihkan tanpa bakar, daripada nyesal seumur hidup,” ujar Serka Yadi Yanto. Suaranya bukan ancaman. Ia nasihat seorang saudara.

Patroli pagi itu sunyi dari kepulan. Tak ada titik api. Tak ada asap yang naik ke langit. Pulau Kijang bernapas lega. Dan itu bukan kebetulan. Ia hasil dari langkah-langkah kecil seperti ini. Dari TNI yang mau turun ke parit. Dari warga yang mau mendengar dan berubah.

Bagi Serka Yadi, karhutla bukan urusan militer semata. Ia urusan dapur. Urusan anak. Urusan masa depan. “Kita jaga sama-sama. Saya patroli, bapak-ibu bantu awasi. Kalau lihat ada yang mau bakar, tegur baik-baik. Kalau tak bisa, lapor. Jangan sampai Inhil kita berasap lagi,” tambahnya. Karena satu lapor, bisa selamatkan satu kecamatan.

Pagi beranjak siang. Patroli usai. Dokumentasi dilampirkan. Tapi tugas Serka Yadi belum selesai. Sebab selama kemarau masih ada, selama lahan masih dibuka, ia akan kembali lagi. Ke Parit 4. Ke Parit 5. Ke mana pun asap mungkin muncul.

Dari Reteh, pesannya mengalun pelan tapi jelas. Udara bersih tak datang dari langit. Ia dirawat dari tanah. Dari tangan yang memilih cangkul ketimbang korek api. Dari hati yang memilih peduli ketimbang abai. Dan selama Serka Yadi Yanto masih berjalan di tapal batas, Pulau Kijang punya harapan: hari esok tetap biru.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]