Bersama Kita Kuat, Bersama Kita Tanam: Di Kuala Lahang, Polisi dan Petani Menyatu Demi Negeri yang Makmur
Gaung – Pagi di Kelurahan Kuala Lahang dimulai dengan semangat kekompakan. Di antara baris pohon pisang yang mulai berbuah, langkah polisi terdengar selaras dengan langkah petani. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat. Hanya ada satu tujuan. Menjaga tanah agar negeri tidak pernah kekurangan pangan.
Upaya mendukung program swasembada pangan terus digencarkan jajaran Polsek Gaung. , Kecamatan Gaung. Ia berjalan dari satu rumpun ke rumpun lain. Menyentuh daun. Memeriksa batang. Bertanya tentang pupuk dan air.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB tersebut menjadi bagian dari komitmen Polri dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat. Kehadiran polisi di tengah para petani juga menjadi bukti nyata bahwa program “Polisi Cinta Petani” bukan sekadar slogan, melainkan bentuk kepedulian langsung terhadap sektor pertanian di wilayah pedesaan.
Aiptu Herianto tidak datang sebagai pengawas. Ia datang sebagai teman. Ia bercakap dengan petani. Ia mendengar keluh tentang hama. Ia memberi semangat agar warga tetap merawat kebun dengan sabar. “Pisang ini bukan hanya untuk hari ini. Pisang ini untuk masa depan. Kalau kita rawat bersama, maka hasilnya akan menjadi berkah bersama,” ujarnya.
Kapolsek Gaung AKP Edi Dalianto mengatakan bahwa keterlibatan personel kepolisian dalam kegiatan pertanian merupakan langkah nyata Polri mendukung program pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan nasional. “Polri tidak hanya menjaga keamanan. Polri juga menjaga dapur rakyat. Ketika pangan aman, maka bangsa ini akan kuat,” tegasnya.
Menurut AKP Edi Dalianto, sektor pertanian memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kebutuhan pangan masyarakat. “Satu pohon pisang yang kita jaga hari ini, bisa menjadi satu piring makanan untuk anak bangsa besok. Karena itu, kami hadir. Kami ingin menjadi bagian dari perjuangan petani,” katanya.
Selain melakukan monitoring, personel juga memberikan motivasi kepada para petani agar tetap semangat mengelola lahan pertanian secara mandiri. Pendampingan yang dilakukan kepolisian diharapkan mampu menciptakan hubungan harmonis antara aparat dan masyarakat, sekaligus mendorong tumbuhnya produktivitas pertanian di Kecamatan Gaung.
Di Kuala Lahang, kebun pisang menjadi ruang pertemuan antara negara dan rakyat. Polisi tidak lagi terlihat sebagai penjaga malam. Polisi terlihat sebagai penjaga pagi. Penjaga harapan. Penjaga semangat warga yang tidak ingin menyerah pada kesulitan.
Aiptu Herianto percaya, ketahanan pangan adalah wujud cinta tanah air. “Swasembada pangan itu bukan hanya urusan pemerintah. Ia urusan kita semua. Kalau kita semua mau turun ke kebun, maka Indonesia akan mandiri. Karena tanah ini subur. Karena rakyat ini pekerja keras,” ujarnya.
Di sela-sela perawatan pohon pisang, Aiptu Herianto juga mengajak warga untuk saling menguatkan. “Jangan biarkan satu petani berjalan sendiri. Kalau ada yang butuh bantuan, bantu. Kalau ada yang putus asa, beri semangat. Karena kekompakan kita adalah senjata terbesar melawan kemiskinan,” katanya.
Warga Kuala Lahang menyambut baik pendampingan ini. Mereka merasa didengar. Mereka merasa dihargai. “Kalau Pak Polisi turun ke kebun, kami jadi semangat. Rasanya negara benar-benar hadir. Rasanya kami tidak sendiri,” kata salah satu petani pisang.
Polsek Gaung menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari pengamalan nilai Pancasila. Gotong royong. Keadilan sosial. Kemanusiaan. Di Kuala Lahang, nilai-nilai itu tidak hanya diucapkan. Nilai-nilai itu ditanam, dirawat, dan dipanen bersama.
Dari satu pohon pisang, harapan tumbuh. Dari satu langkah polisi, kepercayaan warga bertambah. Dari satu kebun, Indonesia belajar bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari desa. Bisa dimulai dari kebersamaan.
Selama Aiptu Herianto masih mau berjalan di antara rumpun pisang, selama petani masih mau merawat tanahnya, maka Gaung akan tetap menjadi kampung yang mandiri. Mandiri dalam pangan. Mandiri dalam semangat. Mandiri dalam cinta pada negeri.
Hari itu, Kuala Lahang pulang dengan hati tenang. Tidak ada rasa takut gagal panen. Tidak ada rasa sepi. Yang ada hanya kebersamaan antara Polri dan petani yang sama-sama ingin melihat Indonesia kenyang.(*)


Berita Lainnya
Di Baris Cabai Parit 7, Polsek Tempuling dan Muhibbah Menenun Swasembada
Dari Cabe hingga Jahe Merah, Personel Polsek Enok Pacu Produktivitas Lahan Lorong Veteran
Enok Bergerak: Dari Lorong Baru ke Dapur Warga, Polri Pacu Ketahanan Pangan Nasional
Polsek Enok Gaspol Kawal Pekarangan Produktif, Terong dan Serai di Lorong Baru Jadi Amunisi Pangan
Memasuki Musim Kemarau, Polsek Koto Gasib melakukan monitoring Ketahanan Pangan
Tuan Guru Sapat dan Warisan Parit Kelapa, Bupati Herman Ajak Inhil Meneladani Akhlak Ulama
Di Baris Cabai Parit 7, Polsek Tempuling dan Muhibbah Menenun Swasembada
Dari Cabe hingga Jahe Merah, Personel Polsek Enok Pacu Produktivitas Lahan Lorong Veteran
Enok Bergerak: Dari Lorong Baru ke Dapur Warga, Polri Pacu Ketahanan Pangan Nasional
Polsek Enok Gaspol Kawal Pekarangan Produktif, Terong dan Serai di Lorong Baru Jadi Amunisi Pangan
Memasuki Musim Kemarau, Polsek Koto Gasib melakukan monitoring Ketahanan Pangan
Tuan Guru Sapat dan Warisan Parit Kelapa, Bupati Herman Ajak Inhil Meneladani Akhlak Ulama