Data Center AI Butuh 18,9 Juta Liter Air per Hari, Infrastruktur RI Diuji
MEDIALOKAL.CO — Proyek data center berbasis kecerdasan buatan senilai Rp 3,5 triliun di Kawasan Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dihentikan sementara akibat persoalan perizinan dan sorotan dampak lingkungan. Penghentian itu menyoroti tantangan yang lebih besar: operasional fasilitas AI menuntut pasokan air dan listrik dalam jumlah masif, sementara Indonesia belum memiliki kerangka pengelolaan yang memadai. Tanpa kajian daya dukung yang ketat, kebutuhan air data center berpotensi mengurangi alokasi bagi masyarakat dan sektor lain, terutama saat musim kemarau.
Sejumlah studi global memperlihatkan skala konsumsi air fasilitas data center. Environmental and Energy Study Institute (EESI) dalam laporan yang diterbitkan pada 2025 menyebut satu data center dapat memakai hingga 5 juta galon air per hari atau sekitar 18,9 juta liter. Peneliti EESI, Miguel Yanez-Barnuevo, menyatakan jumlah tersebut setara dengan kebutuhan air harian 10 ribu hingga 50 ribu orang.
Laporan itu juga mengutip perkiraan bahwa data center di Amerika Serikat menghabiskan 449 juta galon air per hari atau 163,7 miliar galon per tahun pada 2021. Angka ini menunjukkan konsumsi air industri digital sudah berada pada level yang tidak bisa diabaikan.
Mengapa Air Jadi Persoalan Krusial bagi Data Center
Sistem pendingin berbasis penguapan menjadi metode yang paling banyak dipakai untuk membuang panas dari server. Dalam proses itu, sebagian air menguap ke udara, sementara sisanya dialirkan ke fasilitas pengolahan air limbah kota. Yanez-Barnuevo memperkirakan sekitar 80 persen air yang diambil data center akan menguap.
Sumber air operasional bisa berasal dari air permukaan, air tanah, jaringan perpipaan kota, maupun air daur ulang. Pilihan sumber inilah yang menentukan seberapa besar tekanan yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar.
Konsumsi air setiap fasilitas tidak seragam. Ukuran bangunan, lokasi, iklim, suhu ruangan, kepadatan chip, dan teknologi pendingin yang dipakai menjadi faktor pembeda. Penggunaan AI yang makin intensif memperbesar beban itu karena komputasi yang lebih berat meningkatkan kepadatan chip dan panas yang dihasilkan server.
Kekhawatiran di Waduk Jatiluhur dan Kawasan Jati Luhut
Ahli teknologi pengelolaan lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB), Mariana Marselina, menilai pembangunan data center perlu memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan sejak awal. Menurut dia, persoalan air perlu perhatian khusus karena Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi, mulai dari penyediaan air baku hingga irigasi.
"Potensi dampak ekologis yang perlu dikaji antara lain tentu saja terkait penggunaan air untuk sistem pendinginan, kebutuhan energi yang besar, karakteristik air limbah, perubahan tata guna lahan dan limpasan permukaan, kebisingan, panas buangan, serta dampak tidak langsung terhadap masyarakat yang juga bergantung pada sumber daya air yang sama," ujar Mariana kepada CNNIndonesia.com.
Mariana menekankan perlunya kajian untuk memastikan kebutuhan air data center dapat dipenuhi tanpa mengurangi alokasi bagi masyarakat dan sektor lain, termasuk ketika musim kemarau datang.
"Kekhawatiran yang timbul tersebut saya rasa wajar ya dan justru perlu dijawab dengan data. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi bahwa airnya cukup," tuturnya.
Klaim Amazon dan Perbedaan Angka Konsumsi Air
Besarnya konsumsi air tidak bisa disamaratakan ke seluruh data center. CEO Amazon Web Services Matt Garman membantah anggapan bahwa semua fasilitas memakai hingga 5 juta galon air per hari. Ia menyebut rata-rata data center menggunakan sekitar 170 ribu galon air per hari, sedangkan fasilitas Amazon rata-rata memakai kurang dari 13 ribu galon per hari.
Garman juga menyatakan penggunaan air langsung data center hanya sekitar 0,5 persen dari total penggunaan air industri langsung di Amerika Serikat. Perbedaan angka itu menegaskan pentingnya melihat jenis fasilitas dan metode pendinginannya sebelum menarik kesimpulan soal dampak konsumsi air.
Apa Artinya bagi Pelaku Industri dan Pemerintah Daerah
Bagi pelaku industri, kepastian pasokan air dan listrik menjadi prasyarat investasi data center AI. Ketidakjelasan daya dukung lingkungan berisiko menunda atau membatalkan proyek, seperti yang terjadi pada fasilitas BDx Data Centers di Purwakarta. Pemerintah daerah pun menghadapi tuntutan menyusun kajian daya dukung sebelum memberi izin, terutama di kawasan yang sumber airnya dipakai bersama untuk irigasi dan air baku.
Pengalaman global menunjukkan konsumsi air data center bisa ditekan lewat teknologi pendingin hemat air dan pemanfaatan air daur ulang. Namun penerapannya bergantung pada regulasi dan insentif yang jelas. Tanpa itu, pertumbuhan pusat data AI berpotensi berbenturan dengan kepentingan masyarakat atas sumber daya air yang sama.