Kuindra – Minggu (3/5/2026) pukul 10.00 WIB, mentari sudah tinggi di Kelurahan Sapat, Kecamatan Kuindra. Di Kampung Pancasila, Serda Erwin Savitri melangkah pelan. Babinsa Koramil 04/Kuindra itu datang bukan membawa perintah. Ia datang membawa hati. Komsos jadi caranya merawat Indonesia dari beranda desa.
“Babinsa Koramil 04 Serda Erwin Savitri, menyampaikan pentingnya kegiatan Komsos di Kelurahan Sapat Kecamatan Kuindra sebagai bentuk kepedulian dan menjalani silaturahmi Babinsa dengan masyarakat di Kampung Pancasila,” begitu laporan ke Dandim 0314/Inhil. Peduli. Silaturahmi. Dua kata yang jadi napas Serda Erwin pagi itu.
Ia duduk melingkar dengan warga. Tak ada pangkat yang berjarak. “Serta menjalin keakraban antara Babinsa dengan masyarakat di Desa Binaan. Kegiatan ini rutin dilaksanakan,” ujar Serda Erwin Savitri. Karena sebelum bicara bela negara, seorang Babinsa harus lebih dulu paham denyut nadi kampungnya. Tahu siapa yang sakit, siapa yang butuh dibantu, siapa yang gelisah.
Bagi Serda Erwin, Komsos bukan sekadar agenda. “Juga sebagai bentuk amalan dari nilai-nilai luhur Pancasila baik dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bertanah air,” tegasnya. Pancasila tak boleh berhenti di hafalan. Ia harus hidup. Di tegur sapa warung kopi. Di gotong royong bersihkan parit. Di doa lintas agama yang sama-sama meminta Inhil aman.
Dari Komsos itu ia titipkan tiga kata tua yang sakti: asah, asih, asuh. “Dengan kegiatan Komsos ini dapat juga menciptakan saling asah, asih dan asuh, serta menciptakan tali persaudaraan dan menanamkan jiwa saling bertoleransi serta memupuk akan jiwa patriotisme, cinta akan tanah air di Kampung Pancasila, khususnya di wilayah Kelurahan Sapat Kec. Kuindra, Kab. Indragiri Hilir.” Saling mengasah pikiran agar cerdas. Saling mengasihi agar rukun. Saling mengasuh agar kuat.
Warga Sapat menyimak. Ada yang mengangguk. Ada yang berbagi cerita tentang anak muda. Ada yang bertanya soal keamanan lingkungan. Serda Erwin mendengar. Menjawab tanpa menggurui. Karena Babinsa bukan datang untuk mengajar. Ia datang untuk merangkul.
Pukul 11.00 WIB lebih, kegiatan usai. “Selama kegiatan berjalan aman dan tertib.” Aman karena semua merasa saudara. Tertib karena semua merasa didengar. Dan Sapat hari itu pulang membawa satu bekal: rasa memiliki Indonesia yang dirawat bersama dari desa.
Di Kampung Pancasila Sapat, Merah Putih tak hanya berkibar di kantor lurah. Ia berkibar di dada warga. Di tangan yang saling membantu. Di mulut yang saling mengingatkan. Di hati yang sama-sama cinta tanah air. Semua karena seorang Babinsa yang percaya, Pancasila harus turun ke tanah, menyapa rakyat.
Dari Kuindra, pesan itu mengalir pelan tapi pasti. Bahwa menjaga NKRI tak selalu dengan senjata. Kadang cukup dengan duduk bersama. Dengan asah, asih, asuh. Dengan toleransi yang dirawat. Dengan Komsos yang tulus. Dan selama Serda Erwin Savitri masih mau menyapa dari pintu ke pintu, Inhil tak akan kehabisan alasan untuk tetap Indonesia.(*)