Gaung – Senin (4/5/2026), tanah di Kelurahan Kuala Lahang kembali dibuka. Bukan untuk tambang. Bukan untuk bangunan. Tapi untuk jagung. Dua hektar lahan milik Sdr. Amirudin jadi saksi: Inhil ikut menanam harapan, ikut merawat swasembada pangan 2026.
Pagi itu, Camat Gaung Fauziah, S.K.M., M.K.M. turun langsung. Bersama Kapolsek Gaung AKP Edi Dalianto, Ketua LPM Kelurahan Kuala Lahang Sifik Jarlis, pemilik lahan Anton Parhaka, personil Polsek Gaung, dan warga Kuala Lahang. Cangkul diangkat bersama. Bibit jagung ditanam serentak. Ini bukan seremoni. Ini kerja nyata.
“Telah dilaksanakan kegiatan Penanaman Jagung Kuartal II Dalam Rangka Mendukung Swasembada Pangan Tahun 2026 di Kel. Kuala Lahang Kec. Gaung Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau.” Laporan itu singkat. Tapi maknanya panjang. Karena swasembada tak lahir dari pidato. Ia lahir dari tanah yang dibasahi keringat.
Luas lahan yang ditanam: 2 hektar. Dikelola masyarakat. Didampingi Forkopimcam. “Dalam kegiatan tersebut dilakukan penanaman perdana jagung program ketahanan pangan yang dikelolah oleh masyarakat Kelurahan Kuala Lahang Kecamatan Gaung Kabupaten Inhil Prov. Riau.” Artinya, jagung ini bukan milik pejabat. Ia milik rakyat. Ditanam rakyat. Untuk rakyat.
Camat Fauziah tersenyum melihat warga turun ke ladang. Sebab ia tahu, harga pangan sering bikin dapur sesak. Tapi kalau desa mau menanam, kota tak akan kelaparan. Kapolsek Edi Dalianto pun ikut menunduk, menimbun bibit dengan tanah. Karena polisi tahu: perut yang kenyang, lebih damai dari jalan yang dijaga.
“Kegiatan penanaman jagung oleh masyarakat Kelurahan Kuala Lahang Kecamatan Gaung Kabupaten Inhil Prov. Riau merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mendukung program swasembada pangan Pemerintah Republik Indonesia khususnya komoditas jagung.” Jagung bukan sekadar pakan ternak. Ia bahan pokok. Ia harapan agar impor tak lagi jadi tumpuan.
Di lahan Sdr. Amirudin, hari itu ditanam lebih dari bibit. Ditanam kepercayaan. Bahwa Inhil bisa. Bahwa Gaung bisa. Bahwa Kuala Lahang bisa beri makan dirinya sendiri, bahkan bantu daerah lain. Sifik Jarlis dari LPM mencatat: ini awal. Kuartal II dimulai. Akan ada kuartal berikutnya. Akan ada hektar berikutnya.
Anton Parhaka, pemilik lahan, menyeka peluh. “Tanah ini dulu kosong. Sekarang ada jagung. Ada polisi, ada camat, ada warga. Senang rasanya. Semoga hasilnya banyak, harganya bagus.” Doa sederhana. Tapi dari doa seperti itu, lumbung pangan nasional dibangun.
Senin di Kuala Lahang menutup dengan tanah yang gembur dan hati yang lega. Dua hektar sudah tertanam. Tinggal merawat. Tinggal menunggu. Dan ketika tongkol jagung mulai berisi, Inhil boleh berbangga: kami ikut menanam untuk Indonesia yang tak lagi lapar.(*)