Tengah Hari di Tapal Batas Kemuning: Koptu Nasrianto Patroli Bersama Warga, Pastikan Inhil Nihil Titik Api


Selasa, 05 Mei 2026 - 13:16:02 WIB
Tengah Hari di Tapal Batas Kemuning: Koptu Nasrianto Patroli Bersama Warga, Pastikan Inhil Nihil Titik Api

Kemuning – Senin (5/5/2026) siang, laporan itu masuk ke meja Dandim 0314/Inhil. “Selamat Siang, mohon izin melaporkan Komandan situasi Karhutla di wilayah Koramil 09/Kmg.” Di balik kertas laporan, ada cerita tentang panas, debu, dan tekad menjaga langit Inhil tetap biru.

“Pada hari Minggu, 03 Mei 2026 pukul 12:00 Wib Babinsa Koramil 09/Kmg Koptu Nasrianto melaksanakan patroli tapal batas di Wilayah Binaan Kec. Kemuning. Inhil.” Matahari tepat di atas kepala. Tapi Koptu Nasrianto tak berteduh. Ia pilih berjalan. Karena api tak menunggu teduh. Ia datang saat kita lengah.

Titik koordinat S 0°34'19.146" E 102°52'40.8792" disisir pelan. Koptu Nasrianto tak sendiri. “Personil gabungan yang dikerahkan TNI 1 orang dan masyarakat 4 orang. Alkap: SPM 2 unit.” Lima orang, dua motor, satu tujuan: memastikan tak ada asap yang mencuri napas anak-anak Kemuning.

Di setiap kebun yang dilewati, ia berhenti. Menegur sapa. Mengingatkan. “Saya sampaikan ke warga, jaga tanah kita. Jangan buka lahan dengan bakar. Sekali asap naik, yang sakit kita semua. Anak sesak, sekolah libur, tetangga rugi. Lebih baik capek sekarang, daripada nyesal nanti,” ujar Koptu Nasrianto. Kalimatnya bukan perintah. Ia ajakan seorang saudara yang tak mau kampungnya berasap.

Hasil patroli itu menyejukkan hati. “Untuk hasil tidak ditemukan titik api dan asap.” Tiga kata: titik api nihil. Tiga kata yang berarti ribuan paru-paru bisa bernapas lega hari itu. “Titik api dan asap: Nihil.” Di musim kemarau, kata nihil adalah kemenangan.

“Situasi: Aman dan terkendali, selanjutnya mohon petunjuk.” Aman karena dijaga. Terkendali karena warga mau peduli. Koptu Nasrianto paham, seragam tak cukup. “Kita patroli terus, tapi kuncinya di masyarakat. Kalau lihat ada yang bakar, tegur. Kalau tak sanggup, lapor. Satu api kecil bisa jadi bencana kalau dibiarkan,” tambahnya.

Dua unit SPM kembali ke Koramil. Tapi pesan itu tinggal di tapal batas Kemuning. Bahwa karhutla dilawan sebelum menyala. Dengan langkah. Dengan sapa. Dengan lima orang yang rela berpanas demi kata: nihil. Nihil api. Nihil asap. Nihil air mata.

Dari Kecamatan Kemuning, Senin siang mengirim kabar baik ke Tembilahan. Bahwa Inhil masih terjaga. Bahwa selama Koptu Nasrianto dan warga masih mau berjalan beriringan, langit di atas koordinat S 0°34'19.146" E 102°52'40.8792" akan tetap biru. Untuk hari ini. Untuk besok. Untuk anak cucu kita.(*)