Siang di Kampung Pancasila Sapat: Serda Ali B. Harahap Komsos Bersama Warga, Tanam Asah-Asih-Asuh di Tanah Kuindra


Selasa, 05 Mei 2026 - 13:23:03 WIB
Siang di Kampung Pancasila Sapat: Serda Ali B. Harahap Komsos Bersama Warga, Tanam Asah-Asih-Asuh di Tanah Kuindra

Kuindra – Selasa (5/5/2026) pukul 11.00 WIB, terik tak menghalangi langkah Serda Ali B. Harahap. Babinsa Koramil 04/Kuindra itu tiba di Kelurahan Sapat, Kecamatan Kuindra. Bukan bawa senjata. Bukan bawa perintah. Ia datang bawa senyum, bawa telinga yang siap mendengar. Karena di Kampung Pancasila, senjata paling kuat adalah silaturahmi.

“Di kelurahan sapat kec Kuindra, Kabupaten Indragiri Hilir, Babinsa Koramil 04/ Serda Ali B. Harahap, menyampaikan pentingnya kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) di kelurahan Sapat kecamatan Kuindra sebagai bentuk kepedulian Babinsa terhadap masyarakat di Kampung Pancasila.” Laporan ke Dandim 0314/Inhil itu ditulis Piket Koramil 04/Kdr. Tapi makna Komsos tak cukup ditulis. Ia harus dirasa.

Serda Ali duduk melingkar bersama warga. Di teras rumah. Di warung kopi. Di mana saja rakyat berkumpul. “Babinsa menjelaskan, Komsos juga sebagai wadah untuk menjalin silaturahmi dan keakraban antara Babinsa dengan masyarakat di Desa Binaan.” Karena bagi TNI, desa binaan bukan wilayah di peta. Ia rumah kedua. Ia saudara yang harus dijaga.

“Kegiatan ini tidak hanya sekedar hanya rutinitas, serta juga sebagai bentuk amalan dari nilai-nilai luhur Pancasila baik dalam kehidupan melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bertanah air.” Kalimat itu diucap Serda Ali pelan. Ia tahu, Pancasila tak hidup di spanduk. Ia hidup di cara kita menyapa tetangga. Di cara kita membantu yang susah. Di cara kita beda tapi tetap satu meja.

“Dengan kegiatan Komsos ini dapat juga menciptakan saling asah, asih dan asuh, serta menciptakan tali persaudaraan dan menanam jiwa patriot, dan cinta akan tanah air di Kampung Pancasila, khususnya wilayah kelurahan Sapat Kec, Kuindra, Kab, Indragiri Hilir.” Asah pikiran lewat diskusi. Asih dengan peduli. Asuh dengan melindungi. Tiga kata warisan leluhur yang Serda Ali hidupkan kembali di Sapat.

“Selama kegiatan berjalan aman dan tertib. Dokumentasi terlampir.” Aman karena hati yang bicara. Tertib karena semua merasa dihargai. Tak ada jarak antara loreng dan sarung. Antara pangkat dan petani. Yang ada hanya obrolan tentang harga pupuk, tentang anak yang mau masuk tentara, tentang gotong royong perbaiki surau.

Serda Ali B. Harahap menegaskan maknanya. “Saya ke sini bukan karena diperintah. Saya ke sini karena peduli. Kampung Pancasila ini rumah kita. Kalau warganya rukun, kalau pemudanya cinta tanah air, maka Indonesia kuat dari kampung. Komsos ini cara kita jaga itu. Biar Pancasila tidak cuma dihafal, tapi diamalkan,” ujarnya.

Di Sapat, Selasa siang itu, Pancasila tak jadi pelajaran di kelas. Ia jadi praktik di teras. Ia jadi teh hangat yang dibagi. Ia jadi keluh kesah warga yang didengar sampai habis. Dan Serda Ali mencatat semua di hati, bukan cuma di buku.

Dari Kampung Pancasila, Kuindra mengirim pesan ke Tembilahan: Komsos jalan, silaturahmi erat, jiwa patriot tumbuh. Dan selama Serda Ali B. Harahap masih mau duduk sama rendah dengan warganya, maka nilai luhur itu tak akan mati. Ia hidup. Di Sapat. Di Inhil. Di Indonesia.(*)