Gotong Royong di Atas Sungai: Polisi, Brimob, Warga, dan Doa Ibu-ibu Rangkai Jembatan Merah Putih Presisi di Inhil


Rabu, 06 Mei 2026 - 19:08:12 WIB
Gotong Royong di Atas Sungai: Polisi, Brimob, Warga, dan Doa Ibu-ibu Rangkai Jembatan Merah Putih Presisi di Inhil Foto : Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II Gelombang 2 sudah 95 persen berdiri di Kecamatan Batang Tuaka, Inhil

Batang Tuaka – Rabu (06/05/2026) sore, senja turun perlahan di Dusun Pangkalan Baru. Di atas sungai yang dulu memisahkan, kini terbentang harapan. Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II Gelombang 2 sudah 95 persen berdiri. Tinggal selangkah lagi, dan rindu warga Desa Tasik Raya untuk menyeberang tanpa takut akan terjawab.

Angka 95 persen itu bukan sekadar data. Ia keringat AIPTU yang ikut mengaduk semen. Ia peluh Brimob yang mengangkat besi di tengah terik. Ia doa ibu-ibu yang mengantar kopi untuk tukang. Ia tawa anak-anak yang membayangkan besok bisa ke sekolah tanpa naik perahu. “Pembangunan dan perbaikan Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II Gelombang 2 di wilayah hukum Polsek Batang Tuaka terus menunjukkan progres signifikan.”

IPTU Andrianto, S.H., M.H. berdiri di ujung jembatan sore itu. Kapolsek Batang Tuaka itu tak datang meninjau dari jauh. Ia ada di antara personel gabungan Polsek Batang Tuaka, Satbrimob Polda Riau, Ditsamapta Polda Riau, dan Ditpolairud Polda Riau. Di sampingnya, tukang desa dan warga yang tangannya ikut kasar karena cinta. “Selain itu, proses pengerjaan juga didukung oleh tenaga tukang dan partisipasi aktif masyarakat setempat.” Karena jembatan ini bukan milik polisi. Bukan milik negara saja. Ini milik hati yang ingin bersatu.

“Adapun fokus pekerjaan saat ini meliputi pengecoran oprit jembatan, pengecatan lantai, serta pengecatan pagar jembatan.” Oprit yang dicor adalah jalan pulang yang dipermudah. Lantai yang dicat adalah mimpi yang dirapikan. Pagar yang diwarnai adalah janji bahwa yang menyeberang akan aman sampai tujuan. Jembatan sepanjang 37 meter dan lebar 2,5 meter itu kecil di peta. Tapi besar di dada warga Tasik Raya.

“Selama proses pengerjaan berlangsung, tidak ditemukan kendala berarti. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dalam situasi yang aman dan kondusif.” Langit merestui. Sungai merelakan. Tanah menguatkan. Sebab ketika niatnya untuk rakyat, alam pun ikut membantu. Tak ada badai. Tak ada air pasang yang marah. Hanya ada gotong royong yang mengalir lebih deras dari arus.

Kapolsek Batang Tuaka IPTU Andrianto menyampaikan harapannya dengan suara yang lirih. “Kapolsek Batang Tuaka IPTU Andrianto menyampaikan harapannya agar pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi ini dapat segera rampung dan memberikan manfaat besar bagi mobilitas serta perekonomian masyarakat di Desa Tasik Raya dan sekitarnya.” Ia tahu, jembatan ini akan jadi urat nadi. Tempat hasil kebun dibawa ke pasar. Tempat anak sekolah tak lagi terlambat. Tempat bidan bisa cepat sampai saat ada yang mau melahirkan.

Di Dusun Pangkalan Baru, senja itu terasa berbeda. Ada haru di antara tetes cat terakhir. Ada syukur di antara besi yang sudah menyatu. Warga menatap jembatan yang 95 persen jadi itu seperti menatap anak yang hampir wisuda. Tinggal tunggu hari. Tinggal tunggu potong pita. Tinggal tunggu langkah pertama yang menyeberang tanpa ragu.

Dari Batang Tuaka, sore ini mengirim kabar ke Tembilahan: Merah Putih hampir menyatu. Presisi hampir sempurna. Dan ketika 5 persen terakhir itu selesai, maka air mata bahagia akan jatuh. Bukan karena bangunannya megah. Tapi karena akhirnya, tak ada lagi warga yang terpisah oleh sungai. Tak ada lagi rindu yang tertahan di seberang.(*)