Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho bersama Wakil Wali Kota Markarius Anwar meninjau langsung pelaksanaan proyek infrastruktur di lapangan.(Foto:Internet) PEKANBARU, MEDIALOKAL.CO — Satu tahun pertama kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar menjadi fase awal yang menentukan arah pembangunan Kota Pekanbaru. Dalam periode ini, pemerintah kota mulai menunjukkan capaian di berbagai sektor strategis, mulai dari indikator ekonomi, infrastruktur, hingga pelayanan publik.
Data kinerja pemerintah daerah menunjukkan adanya perbaikan pada sejumlah indikator makro. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pekanbaru meningkat dari 84,26 pada 2024 menjadi 84,91 pada 2025. Pertumbuhan ekonomi juga mengalami kenaikan dari 4,61 persen menjadi 5,52 persen. Sementara itu, pendapatan per kapita masyarakat naik dari Rp166,85 juta menjadi Rp178,02 juta per tahun.
Di tengah pertumbuhan tersebut, tingkat kemiskinan relatif terkendali pada kisaran 3,19 persen. Angka ini menunjukkan stabilitas sosial ekonomi yang cukup terjaga, meskipun tekanan urbanisasi dan pertumbuhan penduduk terus meningkat.
Pemerintah Kota Pekanbaru memprioritaskan penanganan persoalan klasik perkotaan, khususnya banjir dan sampah. Dalam satu tahun terakhir, normalisasi sungai telah dilakukan sepanjang 78,2 kilometer. Selain itu, perbaikan drainase dan daerah aliran sungai mencapai 109,5 kilometer.
Penanganan dilakukan di sedikitnya 20 titik rawan banjir. Upaya ini diperkuat dengan kegiatan penghijauan melalui penanaman sekitar 15 ribu pohon di berbagai wilayah kota.
Di sektor persampahan, pemerintah membentuk lembaga pengelolaan sampah di 83 kelurahan. Pendekatan ini menekankan pada pengelolaan dari sumber, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Selain itu, pembangunan fisik kota juga menunjukkan progres. Sepanjang satu tahun, perbaikan jalan telah mencapai lebih dari 42 kilometer. Peningkatan fasilitas umum seperti penerangan jalan dan sarana pendukung transportasi juga dilakukan secara bertahap.
Pemerintah kota turut menyediakan akses WiFi gratis di sejumlah titik strategis sebagai bagian dari upaya mendukung transformasi digital masyarakat.
Salah satu capaian yang menonjol adalah percepatan layanan publik. Proses Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari, kini dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu jam.
Selain itu, layanan administrasi kependudukan diperluas melalui program layanan bergerak yang menjangkau masyarakat secara langsung. Digitalisasi juga diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi birokrasi.
Langkah ini menjadi bagian dari reformasi tata kelola pemerintahan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Di sektor pendidikan, pemerintah meluncurkan program beasiswa untuk jenjang S1 hingga S3, termasuk bagi penghafal Al-Qur’an. Program penanganan anak putus sekolah berhasil menjangkau 1.778 anak, dengan 757 anak di antaranya kembali melanjutkan pendidikan formal.
Angka partisipasi pendidikan dasar juga tercatat tinggi, mencapai lebih dari 93 persen.
Di bidang kesehatan, pemerintah menggulirkan program pemeriksaan kesehatan gratis serta program pemenuhan gizi bagi pelajar. Program ini didukung oleh puluhan dapur umum yang mampu memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari.
Dalam upaya menjaga daya beli masyarakat, pemerintah menggelar bazar murah di sekitar 50 titik. Kegiatan ini bertujuan menstabilkan harga kebutuhan pokok sekaligus membantu masyarakat menghadapi tekanan inflasi.
Pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi fokus. Pemerintah memberikan pelatihan, pendampingan, serta akses permodalan guna meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal.
Di bidang tata kelola, pemerintah kota mencatat capaian signifikan dengan menyelesaikan kewajiban utang daerah sebesar Rp467 miliar. Langkah ini menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan keuangan daerah dan memperkuat kredibilitas fiskal pemerintah.
Selain itu, inovasi pengelolaan sampah berbasis energi (waste to energy) mulai dirintis sebagai solusi jangka panjang terhadap persoalan lingkungan.
Pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga budaya. Kota Pekanbaru berhasil meraih prestasi pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat provinsi, serta menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya untuk memperkuat identitas daerah.
Festival budaya Melayu juga menjadi bagian dari upaya mendorong sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
“Kami fokus pada program yang langsung dirasakan masyarakat.”
(Wali Kota Pekanbaru)
“Perubahan harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya sebagian.”
(Wakil Wali Kota Pekanbaru)
Indikator Makro:
Infrastruktur dan Lingkungan:
Pelayanan Publik:
Pendidikan dan Kesehatan:
Ekonomi:
Keuangan Daerah:
Capaian satu tahun ini menunjukkan fondasi awal yang cukup kuat bagi pembangunan Kota Pekanbaru. Namun, tantangan ke depan tidak ringan. Konsistensi kebijakan, pemerataan pembangunan, serta keberlanjutan program akan menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.
Pemerintah kota dituntut tidak hanya menjaga capaian yang ada, tetapi juga memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar memberikan dampak nyata bagi seluruh masyarakat.(Advetorial)