Dari Balai Desa untuk Anak Cucu: Polsek Gaung, Jangan Bakar Lahan Jangan Sentuh Narkoba Gaung Harus Selamat


Jumat, 08 Mei 2026 - 13:26:17 WIB
Dari Balai Desa untuk Anak Cucu: Polsek Gaung, Jangan Bakar Lahan Jangan Sentuh Narkoba Gaung Harus Selamat

Gaung – Jumat (8/5/2026) pukul 10.00 WIB, balai Desa Terusan Kempas penuh sesak. Di luar, langit Inhil masih biru. Di dalam, AIPTU Heriyanto berdiri. Ps. Kanit Binmas Polsek Gaung itu datang bawa dua pesan berat: jangan bakar lahan, jangan sentuh narkoba. Karena satu korek bisa buat sekampung batuk. Satu pil bisa buat satu generasi runtuh.

“Pada hari Jumat tanggal 08 Mei 2026 sekira pukul 10.00 Wib, bertempat di kantor desa Terusan Kempas Kecamatan Gaung Kabupaten Inhil. Telah dilaksanakan Kegiatan sosialisasi pencegahan Karhutla dan penyalahgunaan Narkoba tahun 2026.” Karhutla dan narkoba. Dua musuh tak bersenjata. Tapi korbannya nyata. Satu bakar hutan, satu bakar masa depan.

Kegiatan dihadiri Camat Gaung, Sdri. Fauziah, S.K.M., M.K.M., Kasi Kessos Kec. Gaung, Sdri. Srie Rinawati, S.E., Sekdes Terusan Kempas, Sdri. Dina Safira, S.H., Tomas, Toga dan masyarakat. “Kapolsek Gaung diwakili Ps. Kanit Binmas, AIPTU Heriyanto. Personil Polsek Gaung.” Semua duduk sama risau. Sebab asap Karhutla tak pilih rumah camat. Narkoba tak pilih anak siapa.

“Dalam kegiatan tersebut, Ps. Kanit Binmas Polsek Gaung menyampaikan himbauan kepada masyarakat dan pihak perusahaan agar tidak membuka lahan/hutan dengan cara dibakar karena berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan serta para pelaku pembakaran hutan dan lahan dapat dikenai sanksi pidana.” Suara AIPTU Heriyanto tegas. Ia ingatkan, hukum negara jelas. Hukum agama pun tegas. “Sesuai dengan fatwa MUI, bahwa membakar lahan hukumnya haram, karena membakar lahan tersebut banyak mempunyai dampak Mudhorot dibandingkan dengan dampak positifnya.”

Ia tatap mata para bapak yang biasa buka ladang. “Bakar lahan memang cepat. Tapi asapnya lama. Anak kita yang sesak. Sekolah libur. Ekonomi lumpuh. Dosa mengalir. Penjara menanti. Masih mau cepat?” ujarnya. Hening. Sebab semua tahu, sekali lahan terbakar, yang hangus bukan cuma tanah. Tapi kepercayaan. Tapi masa depan.

“Harapan Polri kepada masyarakat dan pihak perusahaan kalau ada melihat lahan yang terbakar segera menghubungi personel kepolisian terdekat maupun aparat Desa dan MPA serta berupaya melakukan pemadaman sebelum api meluas.” AIPTU Heriyanto tak mau warga jadi penonton. Ia mau warga jadi pemadam pertama. Jadi pelapor tercepat. Karena api kecil dipadamkan segayung. Api besar butuh helikopter.

Lalu ia bicara soal racun kedua. “Selanjutnya, Ps. Kanit Binmas Polsek Gaung juga menjelaskan tentang UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, jenis - jenis Narkoba, dampak negatif Narkoba, ancaman hukuman dan langkah - langkah pencegahan penyalahgunaan Narkoba terutama bagi generasi muda.” Ia ceritakan anak Inhil yang putus sekolah karena nyabu. Ayah yang jual motor karena kecanduan. Ibu yang malu karena anak ditangkap. “Kalau Karhutla bakar hutan, narkoba bakar rumah tangga. Dua-duanya harus kita lawan.”

“Dengan sosialisi diharapkan Terbangunnya kesadaran masyarakat atas dampak yang ditimbulkan apabila membuka lahan dengan cara dibakar, sehingga dapat mengeliminir terjadinya kasus Karhutla di wilkum polsek Gaung. Personil polsek gaung juga Memberdayakan masyarakat agar ikut mensosialisasikan kepada masyarakat lainnya tentang larangan membuka lahan/hutan dengan cara dibakar serta Mencegah peredaran Narkoba di wilayah Kecamatan Gaung.” Pesan itu dititipkan ke Tomas, ke Toga, ke emak-emak. Biar diteruskan ke warung. Ke surau. Ke ladang.

“Kegiatan tersebut selesai sekira pukul 12.00 Wib. Selama kegiatan berlangsung, situasi terdapat dalam keadaan aman dan terkendali.” Dua jam yang menanam waspada. Dua jam yang mungkin selamatkan satu hektar lahan. Mungkin selamatkan satu anak muda. Di Terusan Kempas, Jumat siang itu, sosialisasi bukan ceramah. Ia ikhtiar. Ikhtiar agar Gaung tetap bisa bernapas. Ikhtiar agar anak Gaung tetap punya masa depan.

Dari kantor Desa Terusan Kempas, pesan itu terbang ke Tembilahan: warga diingatkan, perusahaan diingatkan, hati diingatkan. Dan selama AIPTU Heriyanto masih mau berdiri di balai desa, masih mau bicara dengan nada sayang tapi tegas, maka Inhil punya harapan. Harapan bahwa langit tetap biru. Harapan bahwa generasi tetap utuh.(*)