Foto : AIPTU Mahmud ke kediaman Ibu Siti di Desa Keritang, Kecamatan Kemuning. KEMUNING - Di Desa Keritang, senja jatuh pelan di atas pekarangan. Di antara rimbun daun ubi dan bisik angin, Polri hadir bukan untuk menjaga pintu, tapi untuk menanam harapan di tanah yang selama ini hanya diam.
Sebagai wujud nyata sinergitas dan soliditas antara Polri dengan masyarakat, Polres Inhil melalui Polsek Kemuning terus mendorong program Ketahanan Pangan guna mewujudkan Swasembada Pangan Indonesia. Kali ini, Bhabinkamtibmas Desa Keritang AIPTU MAHMUD ALHUSORI NASUTION, SH, turun langsung ke rumah warga untuk menguatkan ketahanan pangan dari akar rumput.
Kunjungan yang penuh keakraban itu membawa AIPTU Mahmud ke kediaman Ibu Siti di Desa Keritang, Kecamatan Kemuning. Di halaman rumahnya, ubi sedang dirawat. Tanah yang biasanya hanya ditumbuhi rumliar, kini mulai diolah. Bhabinkamtibmas tidak datang dengan seragam dan perintah. Ia datang dengan cangkul dan semangat.
Dalam percakapan yang mengalir tanpa jarak, AIPTU Mahmud tidak hanya berperan sebagai penjaga keamanan. Ia menjadi motivator. Ia menghimbau, mengajak, dan mendorong warga untuk memanfaatkan tanah pekarangan rumah masing-masing agar lebih produktif. “Kalau satu rumah punya satu bedeng ubi, satu desa bisa punya lumbung. Swasembada pangan itu dimulai dari depan pintu,” ujarnya.
Kegiatan sambang ini adalah representasi peran Bhabinkamtibmas sebagai mitra dan pelayan masyarakat. Dengan turun langsung membantu warga yang sedang melakukan perawatan ubi, terlihat jelas kedekatan emosional yang terbangun. Tidak ada protokol. Tidak ada jarak. Hanya dua orang yang sama-sama ingin melihat tanah ini memberi hasil.
AIPTU Mahmud menegaskan, ketahanan pangan adalah bagian dari tugas Polri yang tidak boleh dipisahkan dari Kamtibmas. “Kami ingin memastikan bahwa selain situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif, kesejahteraan serta kemandirian pangan warga di Desa Keritang juga terjaga dengan baik melalui pemanfaatan potensi lokal yang ada,” katanya di sela-sela kegiatan.
Bagi AIPTU Mahmud, pekarangan adalah ruang yang selama ini belum dimaksimalkan. “Lahan luas itu penting, tapi tidak semua warga punya. Yang semua warga punya adalah pekarangan. Kalau itu kita tanam, kita tidak akan tergantung pada harga pasar. Kita punya stok sendiri,” jelasnya. Di tangannya, tanah kecil itu bukan lagi halaman. Ia adalah dapur masa depan.
Ibu Siti menyambut baik arahan tersebut. Kehadiran Polri di tengah-tengah petani memberikan semangat tersendiri bagi warga untuk terus berinovasi dalam mengelola lahan pertanian maupun pekarangan mereka. “Biasanya polisi datang kalau ada masalah. Kali ini datang bantu tanam. Jadi kami merasa didukung, bukan diawasi,” katanya sambil tersenyum.
Di Keritang, gotong royong tidak hanya terjadi saat panen. Ia terjadi saat menanam. Saat menyiram. Saat mengajari tetangga cara merawat ubi. Dengan semangat itu, AIPTU Mahmud berharap Desa Keritang dapat menjadi contoh desa yang mandiri secara pangan sekaligus tetap terjaga stabilitas keamanannya. “Desa yang kenyang, hatinya tenang. Desa yang tenang, polisi tidak akan lelah,” ujarnya.
Dari satu halaman di Desa Keritang, Polsek Kemuning ingin menulis cerita baru. Cerita tentang desa yang tidak menunggu. Tentang polisi yang tidak hanya berjaga, tapi juga bertani. Tentang warga yang tidak hanya berharap, tapi juga bekerja. Karena swasembada pangan bukan slogan yang diteriakkan dari atas. Ia tumbuh di tanah, di rawat di pekarangan, dan dipanen di meja makan warga.
Di Keritang, ubi yang ditanam hari ini mungkin belum cukup untuk mengisi lumbung nasional. Tapi cukup untuk membuktikan satu hal: ketika Polri dan warga menanam bersama, yang tumbuh bukan hanya tanaman. Yang tumbuh adalah keyakinan bahwa Indonesia bisa kenyang, dimulai dari satu meter tanah di depan rumah.(*)