Di Bawah Langit Teluk Sungka: Kapolsek GAS Turun Ke Ladang, Menanam Harapan Bersama Petani


Selasa, 12 Mei 2026 - 23:22:59 WIB
Di Bawah Langit Teluk Sungka: Kapolsek GAS Turun Ke Ladang, Menanam Harapan Bersama Petani

GAS - Di Desa Teluk Sungka, Kecamatan Gaung Anak Serka, sore itu tanah yang gersang mulai terasa hidup. Bukan hanya cangkul yang bekerja, tapi juga hati yang percaya bahwa dari sini, harapan akan tumbuh. 

Kapolsek Gaung Anak Serka (GAS) IPTU Andi Purba, SE, MH, turun langsung memantau persiapan lahan ketahanan pangan bersama kelompok tani di Desa Teluk Sungka. Tidak ada jarak antara polisi dan petani. Yang ada hanya satu barisan, satu tujuan: memastikan tanah ini kembali memberi kehidupan.

Ia berjalan pelan di pematang, menyentuh tanah dengan tangannya, bertanya kepada petani tentang kesuburan, tentang bibit, tentang harapan yang selama ini tertunda. “Kalau tanah ini kita rawat dengan hati, ia akan membalas dengan hasil yang tidak pernah mengkhianati,” katanya pelan, seolah berbisik pada bumi.

Bagi IPTU Andi Purba, ketahanan pangan bukan hanya angka dan laporan. Ia adalah wajah ibu yang lega karena beras cukup untuk sebulan, wajah anak yang bisa sekolah karena hasil panen orang tuanya baik. “Kami hadir bukan untuk memerintah. Kami hadir untuk menemani. Karena kami percaya, polisi juga punya tempat di ladang,” ujarnya.

Kelompok tani menyambut kehadirannya dengan senyum yang sederhana, tapi penuh makna. Di tengah keterbatasan, mereka tidak sendiri. Ada Kapolsek yang mau duduk di atas tanah, mendengar keluh kesah, dan ikut memikirkan solusi. “Rasanya seperti ada keluarga yang datang membantu,” ucap salah seorang petani.

Di Teluk Sungka, setiap jengkal lahan yang dibersihkan adalah janji untuk masa depan. Setiap butir bibit yang akan ditanam adalah doa agar tidak ada lagi dapur yang kosong, tidak ada lagi anak yang menahan lapar. Dan di tengah itu semua, ada sosok polisi yang memilih berdiri di samping petani, bukan di belakang meja.

IPTU Andi Purba percaya, kekuatan desa tidak terletak pada besarnya bantuan, tapi pada besarnya kebersamaan. “Kalau kita tanam bersama, kita panen bersama. Kalau kita rawat bersama, tidak ada yang akan kelaparan di desa ini,” katanya dengan suara yang bergetar.

Ia berharap, lahan ketahanan pangan ini menjadi bukti bahwa desa bisa mandiri. Bahwa dari Teluk Sungka, bisa lahir cerita tentang ketekunan, tentang gotong royong, tentang polisi dan petani yang saling menguatkan. “Ini bukan hanya tentang jagung atau sayur. Ini tentang harga diri sebuah desa,” ujarnya.

Sore itu, matahari perlahan turun, meninggalkan warna jingga di atas lahan yang baru saja disiapkan. Di atas tanah itu, harapan ditanam bersama. Dan di antara baris-baris tanah yang basah oleh keringat, tumbuh keyakinan bahwa selama ada yang peduli, Desa Teluk Sungka tidak akan pernah ditinggalkan.

Di Teluk Sungka, Kapolsek GAS tidak hanya memantau lahan. Ia menanam kepercayaan, menyiramnya dengan kepedulian, dan menunggu bersama warga hingga panen tiba. Karena ketahanan pangan yang sejati, tumbuh dari hati yang tidak pernah lelah untuk mendampingi.(*)