Pilihan
Bosda Akhir 2024 Masih Tunda Bayar, Banyak Kepsek Dikejar Vendor!
Marto Saputra Siap Ditempatkan Dimana Saja!
Pekanbaru Mudahkan Warga Urus PBG, Wako Resmikan Sip Aman
DPP SPKN Nilai Kejati Riau Belum Respon Positif
DPP SPKN Apresiasi Polda Riau Tindak Lanjuti SPPD dan Mamin di DPRD Riau
Beda kisah Presiden Soekarno & Jokowi saat nikahkan puterinya
MEDIALOKAL.CO - Rangkaian pesta pernikahan puteri Presiden Jokowi Kahiyang Ayu dan Bobby Afif Nasution berlangsung meriah. Ribuan orang menghadiri acara yang digelar di Solo 7-8 November 2017 kemarin.
Presiden Jokowi bersyukur prosesi akad nikah dan resepsi berlangsung lancar. Tak lupa, Jokowi meminta mohon doa kepada masyarakat luas di tanah air agar Kahiyang dan Bobby dapat selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Serta berhasil membangun sebuah keluarga yang baru.
"Alhamdulillah, ijab qabul pernikahan Kahiyang dan Bobby Nasution berjalan dengan lancar," tulis Jokowi.
Tak cuma pejabat negara, masyarakat sekitar hingga tukang becak turut kecipratan berkah dalam peristiwa penuh kebahagiaan ini. Semua bersuka cita dan mengirimkan doa yang baik untuk kedua mempelai.
Beda kisah pernikahan puteri Jokowi, beda pula cerita saat Presiden Soekarno menikahkan puterinya. Nyaris tak ada kebahagiaan di sana.
Saat itu Presiden Soekarno berada di senjakala kekuasaannya. Setelah peristiwa G30S PKI dan Surat Perintah 11 Maret, kekuasaan berpindah ke tangan Mayjen Soeharto.
Presiden Soekarno yang semula adalah orang paling berkuasa di negeri ini tiba-tiba dipereteli kekuasaannya pelan-pelan. Di akhir hidupnya, Soekarno menjadi tahanan Orde Baru yang dilarang ditengok atau menemui orang lain. Hidup terkungkung dikelilingi pengawal di Wisma Yasoo.
Soekarno tak punya uang simpanan di akhir hidupnya. Ketika salah seorang putrinya hendak menikah, Soekarno tak punya uang. Dengan malu dan terpaksa, dia meminta bantuan salah seorang istrinya, Yurike Sanger, untuk mencarikan utangan Rp 2 juta.
Dengan pengawalan ketat, Soekarno menemui Yurike. Wanita itu menangis melihat Soekarno. Tak ada lagi kegagahan yang dulu tampak. Sosok Soekarno kini tua dan renta karena tekanan batin.
"Mas tak ingin diberi stempel sebagai bapak yang gagal. Yang jadi persoalan utama, Mas tidak punya uang. Hidupku selama ini sama sekali untuk bangsa dan negara, sama sekali untuk kepentingan nasional," beber Soekarno dengan getir.
Untungnya beberapa hari kemudian Yurike bisa mendapatkan uang itu. Dia mendapat pinjaman lunak dari seorang pengusaha.
Hal itu diceritakan Yurike Sanger dalam memoarnya yang ditulis Kadjat Adra'i dan diterbitkan Komunitas Bambu.
Peristiwa lain terjadi tahun 1969, saat itu Rachmawati Soekarnoputri menikah dengan Martomo Pariatman Marzuki. Soekarno sebagai tahanan datang dengan penjagaan ketat tentara ke pernikahan itu.
Suasana sungguh mengharukan. Fatmawati, istri Soekarno menyambut suami yang lama tidak ditemuinya. Fatmawati pun sedih melihat kondisi Soekarno yang kurus dan lemah.
Dengan kasar tentara itu mengusir Fatmawati agar tak mendekati Soekarno. Presiden pertama ini benar-benar diperlakukan seperti narapidana.
Saat Sukmawati menikah, peristiwa itu terulang lagi. Soekarno semakin lemah. Dia bahkan harus dipapah saat naik tangga. Soekarno menangis tersedu-sedu melihat putrinya menikah. Hadirin pun menangis melihat Soekarno sangat tak berdaya.
Tapi tidak demikian dengan para penjaga Soekarno. Tanpa belas kasihan mereka mendorong Soekarno masuk mobil saat jam kunjungan berakhir. Saat Soekarno hendak melambaikan tangan, para tentara itu menarik tangan Soekarno dengan kasar.
Dalam kondisi terasing dan kesepian itulah Presiden Soekarno meninggal dunia tanggal 21 Juni 1970. (*)
Sumber : Merdeka.com


Berita Lainnya
Kapolri Launching Direktorat PPA-PPO di 11 Polda dan 22 Polres, Perkuat Pelayanan hingga Perlindungan Kelompok Rentan
Keterbatasan APBD, Pemkab Rohil dan Karmila Sari Lobi Pemerintah Pusat
Dua Kader GMNI Inhil Resmi Dikukuhkan sebagai DPP GMNI Periode 2025–2028
PLN Berhasil Operasikan Jalur 2 Transmisi Pangkalan Brandan-Langsa, Pasokan Listrik Ke Aceh Makin Andal
Danantara Sinergikan BUMN Bangun Huntara di Aceh Tamiang, PLN Sambung Listrik untuk Semua Rumah dan Fasum
Kolaborasi YBM, PIKK, dan Srikandi PLN UIP3B Sumatera Gelar Khitan Sehat Anak Sholeh
Kapolri Launching Direktorat PPA-PPO di 11 Polda dan 22 Polres, Perkuat Pelayanan hingga Perlindungan Kelompok Rentan
Keterbatasan APBD, Pemkab Rohil dan Karmila Sari Lobi Pemerintah Pusat
Dua Kader GMNI Inhil Resmi Dikukuhkan sebagai DPP GMNI Periode 2025–2028
PLN Berhasil Operasikan Jalur 2 Transmisi Pangkalan Brandan-Langsa, Pasokan Listrik Ke Aceh Makin Andal
Danantara Sinergikan BUMN Bangun Huntara di Aceh Tamiang, PLN Sambung Listrik untuk Semua Rumah dan Fasum
Kolaborasi YBM, PIKK, dan Srikandi PLN UIP3B Sumatera Gelar Khitan Sehat Anak Sholeh