Dari Bisik Warga ke Borgol Polisi, Kapolsek Tempuling Nyatakan Tak Ada Tempat untuk Pengedar Sabu


Indragiri Hilir – Kamis (23/4/2026) senja, pukul 17.35 WIB. Di Jalan Suka Damai RT 004/RW 007, Kelurahan Sungai Salak, Kecamatan Tempuling, langkah tegas Polsek Tempuling mengetuk sebuah teras rumah. Di sana, seorang pria 33 tahun berinisial SA diringkus. Bukan dengan kebencian, tapi dengan kepedulian pada ribuan nyawa yang nyaris hancur karena sabu.

Pengungkapan ini lahir dari suara rakyat. Informasi masyarakat menyebut rumah itu kerap jadi titik transaksi narkotika. Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora, S.H., S.I.K. melalui Kapolsek Tempuling IPTU Delni Atma Saputra, S.H., M.H. tak menunggu lama. Perintah turun, tim bergerak.

“Setelah memperoleh informasi yang akurat, tim yang saya pimpin langsung bergerak ke lokasi dan berhasil mengamankan tersangka yang saat itu berada di teras rumahnya,” ujar IPTU Delni Atma Saputra. Ia pimpin langsung. Karena perang melawan narkoba tak bisa diwakilkan.

Penangkapan disaksikan Ketua RT dan tokoh pemuda setempat. Dari tangan SA, polisi sita beberapa paket sabu dengan berat kotor 1,23 gram, alat hisap, timbangan digital, uang tunai Rp945.000, satu handphone, dan satu unit sepeda motor. Tes urine SA pun positif amphetamine.

Kepada petugas, SA mengaku sabu itu didapat dari seseorang berinisial UC di Desa Mumpa, Kecamatan Tempuling. Nama itu kini jadi buruan. Jaringan harus diputus. Sebab satu gram sabu yang lolos, bisa merenggut mimpi satu anak bangsa.

SA kini dijerat Pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ia ditahan di Mapolsek Tempuling. Namun di balik jerat hukum itu, ada getir yang menusuk: betapa rapuhnya kita jika narkoba dibiarkan merajalela di kampung sendiri.

Ini bukan sekadar penangkapan. Ini perang sunyi. Perang tanpa sorak sorai, tapi taruhannya masa depan Indonesia. Setiap paket sabu yang disita adalah satu nyawa pemuda yang diselamatkan. Setiap bandar yang ditangkap adalah satu lubang kehancuran yang ditutup.

Dari Sungai Salak sore itu, pesan mengalun pilu sekaligus tegar: nasionalisme diuji di teras rumah warga. Ketika polisi mau dipimpin langsung Kapolsek turun ke lapangan, ketika RT dan pemuda mau jadi saksi, ketika rakyat tak diam, maka narkoba tak akan punya tanah untuk tumbuh.

Sebab Indonesia terlalu berharga untuk dikalahkan sabu. Sebab anak-anak Tempuling terlalu mulia untuk dikorbankan. Dan selama masih ada seragam cokelat yang rela berpanas-panas demi satu penangkapan, maka harapan itu belum padam.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]