Patroli Tapal Batas di Parit 5 Reteh, Peltu Nofiandi: Titik Api Nihil, Hutan Kita Aman


Reteh – Sabtu (25/4/2026) pagi, pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, langkah sunyi Peltu Nofiandi, Babinsa Koramil 07/Reteh, menyisir Tapal Batas di Parit 5 ke Madani, Kecamatan Reteh, Inhil. Bersama 2 warga, ia berpatroli. Tujuannya satu: pastikan hutan tak terbakar, udara tak berasap.

Di titik koordinat 17.20.13.165° S, tiga orang itu bergerak dengan 2 unit SPM. Melewati jalan tanah, menembus semak, menatap langit. Mencari tanda yang paling ditakuti: api kecil yang bisa jadi bencana besar. Tapi hari itu, alam bersahabat.

“Untuk hasil tidak ditemukan titik api dan asap,” ujar Peltu Nofiandi usai patroli. Kalimat pendek itu melegakan. Sebab satu titik api yang luput bisa hanguskan hektare hutan. Satu asap yang terlewat bisa sesakkan ribuan paru-paru.

Patroli Tapal Batas bukan sekadar rutinitas. Ia ikhtiar menjaga napas Inhil. Di musim kemarau, hutan jadi mudah tersulut. Di musim hujan, lahan gambut tetap menyimpan bara. Karena itu Babinsa tak boleh lengah, masyarakat tak boleh abai.

Keterlibatan 2 warga dalam patroli ini jadi bukti: menjaga hutan bukan tugas TNI semata. Ia tanggung jawab bersama. Dari yang bawa cangkul, hingga yang paham setiap jengkal tanah desanya. Dari seragam loreng, hingga tangan rakyat yang cinta kampungnya.

Alkap sederhana, 2 unit SPM. Tapi semangatnya besar. Sebab mereka tahu, asap tak kenal batas koramil. Jika Parit 5 terbakar, Reteh batuk, Tembilahan sesak, Riau menangis. Maka lebih baik keringat menetes di patroli, daripada air mata menetes karena bencana.

Hasil nihil adalah kabar terbaik. Titik api dan asap nihil berarti anak-anak Reteh hari ini bisa main di luar tanpa masker. Berarti petani bisa ke ladang tanpa khawatir. Berarti langit Inhil tetap biru, bukan kelabu.

Situasi aman dan terkendali. Tapi Peltu Nofiandi tak mau jemawa. Baginya, patroli harus terus jalan. Hari ini nihil, besok belum tentu. Kewaspadaan adalah harga yang harus dibayar untuk udara bersih.

Dari Parit 5 ke Madani, pesan itu lirih namun tegas: hutan adalah paru-paru kita. Menjaganya berarti menjaga hidup. Dan selama masih ada Babinsa dan warga yang mau berpatroli bersama, maka harapan Inhil bebas asap belum padam.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]