Babinsa Koramil 04/Kuindra Rajut Silaturahmi: Komsos di Sapat Pupuk Jiwa Patriot dan Cinta Tanah Air


Kuindra – Minggu (26/4/2026) pukul 11.00 WIB, Kampung Pancasila di Kelurahan Sapat, Kecamatan Kuindra, Inhil, kembali dihangatkan obrolan. Serka Surachman, Babinsa Koramil 04/Kuindra, hadir di tengah warga. Bukan dengan perintah, tapi dengan silaturahmi bernama Komsos.

Bagi Serka Surachman, Komunikasi Sosial adalah napas teritorial. “Pentingnya kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) di Kelurahan Sapat Kecamatan Kuindra sebagai bentuk kepedulian Babinsa terhadap masyarakat di Kampung Pancasila,” tegasnya. Kepedulian yang tak berjarak. Yang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Komsos, kata Serka Surachman, adalah wadah. “Komsos juga sebagai wadah untuk menjalin silaturahmi dan keakraban antara Babinsa dengan masyarakat di Desa Binaan,” ujarnya. Di situlah kepercayaan dirajut. Di situlah rasa saling memiliki tumbuh. Sebab keamanan desa lahir dari hati yang dekat, bukan dari laras yang panjang.

Ia menolak Komsos disebut rutinitas kosong. “Kegiatan ini tidak hanya sekedar rutinitas, serta juga sebagai bentuk amalan dari nilai-nilai luhur Pancasila baik dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bertanah air,” jelas Serka Surachman. Pancasila tak boleh hanya dihafal, tapi harus dihidupkan.

Dari Komsos, lahir falsafah Jawa yang mengakar: asah, asih, asuh. “Dengan kegiatan Komsos ini dapat juga menciptakan saling asah, asih dan asuh, serta menciptakan tali persaudaraan dan menanam jiwa patriot, dan cinta akan tanah air di Kampung Pancasila, khususnya wilayah Kelurahan Sapat Kec. Kuindra, Kab. Indragiri Hilir,” tuturnya.

Saling asah berarti saling mencerdaskan. Saling asih berarti saling menyayangi. Saling asuh berarti saling menjaga. Tiga kata itu jadi benteng. Benteng dari perpecahan, dari radikalisme, dari lunturnya nasionalisme. Kampung Pancasila harus jadi bukti: Bhineka Tunggal Ika bukan slogan, tapi laku hidup.

Di Sapat, Serka Surachman tak sekadar bicara soal keamanan. Ia bicara soal gotong royong, soal toleransi beragama, soal bangga jadi Indonesia. Karena baginya, menjaga NKRI dimulai dari menjaga kerukunan di tingkat RT. Cinta tanah air ditanam dari pagar rumah masing-masing.

Warga menyambut hangat. Sebab mereka tahu, Babinsa yang hadir adalah Babinsa yang mengayomi. Yang mau mendengar keluh kesah, yang siap jadi jembatan solusi. Ketika seragam loreng melebur dengan sarung dan peci warga, maka di situlah Pancasila menemukan rumahnya.

Selama kegiatan, suasana berjalan aman dan tertib. Tak ada sekat, yang ada hanya tawa dan sepakat: Sapat harus tetap rukun, Kuindra harus tetap damai, Inhil harus tetap Indonesia.

Dari Kampung Pancasila, pesan itu bergema: menjaga bangsa tak selalu dengan senjata. Kadang cukup dengan duduk bersama, saling asah, saling asih, saling asuh. Dan selama Serka Surachman masih mau merangkul, maka merah putih akan terus berkibar di hati warga Sapat.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]