Di Tapal Batas Desa Sanglar: Sertu Johansah Sisir Titik Rawan, Pastikan Reteh Bebas dari Api dan Asap


Reteh – Rabu (29/4/2026) pukul 09.00 WIB, langkah Sertu Johansah mulai menyusuri tapal batas Desa Sanglar, Kecamatan Reteh, Inhil. Babinsa Koramil 07/RTH itu tak sendiri. Dua warga mendampingi. Tiga pasang mata menyisir semak, tiga hati membawa satu doa yang sama: jangan ada api, jangan ada asap.

Patroli itu bukan sekadar tugas. Ia adalah janji. Janji pada anak-anak Sanglar agar tetap bisa menghirup udara bersih. Janji pada petani agar lahannya tak hangus sia-sia. Janji pada Inhil agar langitnya tetap biru. “Personil gabungan yang dikerahkan TNI 1 orang, masyarakat 2 orang. Untuk hasil tidak ditemukan titik api dan asap,” begitu laporan yang dikirim ke komando atas.

Dua unit SPM membelah jalan tanah. Tak ada sirine meraung. Tak ada rombongan besar. Hanya Babinsa, dua warga, dan kepedulian yang tak bisa diukur dengan angka. “Kami patroli tapal batas untuk pastikan wilayah Desa Sanglar aman dari karhutla. Alhamdulillah, hari ini titik api dan asap nihil,” ucap Sertu Johansah dengan napas lega. Nihil. Satu kata yang membuat lelah di pelipis terasa lunas.

Tapal batas Sanglar sunyi, tapi tidak lengah. Sertu Johansah tahu, api bisa datang diam-diam. Dari puntung rokok yang dibuang sembarangan. Dari lahan yang dibuka dengan cara dibakar. Karena itu ia berjalan, ia melihat, ia memastikan. Sebab mencegah selalu lebih mulia daripada memadamkan.

Sinergi kecil itu terasa hangat. Satu TNI, dua masyarakat. Mereka bukan tim besar, tapi tekadnya luas. Karena menjaga desa tak harus menunggu perintah dari langit. Cukup mulai dari langkah kaki sendiri, dari mata yang mau peduli, dari hati yang tak rela Inhil diselimuti asap lagi.

Hasil patroli Rabu pagi itu melegakan. Titik api dan asap: nihil. “Situasi aman dan terkendali, selanjutnya mohon petunjuk,” tulis Sertu Johansah dalam laporannya. Aman dan terkendali. Dua kata yang berarti ibu-ibu bisa menjemur pakaian, anak-anak bisa sekolah tanpa masker, nelayan bisa melaut tanpa kabut menghalang.

Koramil 07/RTH mengerti, karhutla adalah musuh tanpa wajah. Ia datang saat lengah. Ia pergi membawa derita. Maka patroli di Sanglar bukan rutinitas kosong. Ia adalah ikhtiar. Ikhtiar agar Reteh tetap bisa bernapas. Ikhtiar agar Inhil tak mengulang luka lama.

Dari tapal batas Desa Sanglar, Sertu Johansah mengirim pesan sunyi ke seluruh Inhil. Selama masih ada Babinsa yang mau berjalan, selama masih ada warga yang mau menjaga, maka negeri ini akan baik-baik saja. Nihil hari ini adalah kemenangan. Dan besok, langkah itu akan diulang lagi.

Inilah wajah TNI di batas desa. Tak banyak bicara di podium, tapi hadir di titik rawan. Tak mencari tepuk tangan, tapi mencari kepastian: bahwa Inhil aman dari api. Dan hari ini, Sanglar bisa tersenyum lega.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]