Menjaga Nadi Kehidupan Inhil: Polsek Tempuling, Koordinasi dengan SPBU Demi Distribusi BBM yang Adil


Tempuling – Minggu (3/5/2026) pukul 09.30 WIB, mentari sudah mulai meninggi di Jalan Provinsi. Di SPBU Putra Sindo Tempuling No. 13.292.630, langkah IPDA Basar Hutahaean, S.H. terdengar pelan. Kanit Samapta Polsek Tempuling itu datang bukan untuk menilang. Ia datang untuk menjaga. Menjaga agar seliter BBM sampai ke tangan yang berhak, tanpa antre mengular, tanpa cemas kehabisan.

Bersama PS Kanit Intelkam BRIPKA Radot Apri Sianturi dan Bhabinkamtibmas Desa Teluk Kiambang BRIPKA Wahyudi, ia menyapa pengawas SPBU. Menyapa penjaga pompa. Menyapa warga yang sedang mengisi. “Dalam upaya mencegah antrean panjang serta mengantisipasi penimbunan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi,” begitu niat yang dibawa. Niat yang sederhana: agar rakyat kecil tak resah di depan pompa bensin.

Angka-angka dicatat dengan teliti. Hati ikut lega membaca hasilnya. “Pertalite sebanyak 33.750 liter, Pertamax 17.198 liter, Dexlite 8.911 liter, Bio Solar B40 8.469 liter, Pertamax Turbo 12.131 liter, serta Pertamina Dex 17.958 liter.” Stok aman. Cukup untuk motor para petani. Cukup untuk perahu para nelayan. Cukup untuk mobil yang mengantar anak sekolah.

“Harga BBM masih mengacu pada penyesuaian per 18 April 2026, di mana Pertalite dan Bio Solar B40 tidak mengalami perubahan.” Kalimat itu seperti embun pagi. Menyejukkan. Karena bagi warga Tempuling, Pertalite dan Solar bukan sekadar bahan bakar. Ia nadi kehidupan. Ia ongkos ke pasar. Ia harapan agar dapur tetap mengepul.

IPDA Basar tak hanya menghitung liter. Ia menghitung rasa aman. “Dalam kegiatan tersebut, personel kepolisian juga melakukan koordinasi dengan pengawas dan petugas keamanan SPBU guna memastikan kelancaran distribusi, sekaligus melakukan pengawasan terhadap antrean kendaraan masyarakat yang melakukan pengisian BBM.” Mata mengawasi. Hati mengayomi. Agar tak ada yang curang. Agar tak ada yang menimbun untuk untung sendiri.

Pesan itu disampaikan pelan tapi tegas kepada pengelola. “Selain itu, petugas memberikan imbauan kepada pihak pengelola SPBU agar tidak melakukan penimbunan maupun penyalahgunaan BBM bersubsidi yang dapat merugikan masyarakat.” Karena BBM subsidi adalah hak rakyat. Hak petani di Teluk Kiambang. Hak ibu-ibu yang bawa anak ke posyandu. Hak yang harus dijaga bersama.

Dan pagi itu, Tempuling menjawab dengan tertib. “Dari hasil monitoring, tidak ditemukan adanya antrean panjang maupun aksi pembelian berlebihan (panic buying). Situasi di lokasi terpantau tertib, aman, dan terkendali.” Tak ada klakson bersahut. Tak ada wajah cemas. Yang ada hanya senyum lega. Sebab ketika polisi hadir, rakyat merasa dijaga.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran hukum pengelola SPBU serta kepercayaan masyarakat dalam menjaga situasi kamtibmas yang kondusif di wilayah hukum Polsek Tempuling.” Kesadaran hukum yang tumbuh. Kepercayaan yang mekar. Dua hal yang tak bisa dibeli dengan uang, tapi bisa dirawat dengan hadir dan peduli.

Hingga siang menjelang, langkah IPDA Basar dan anggota masih di sana. “Hingga saat ini, kegiatan pengamanan dan monitoring pendistribusian BBM masih terus berlangsung dengan situasi yang tetap kondusif.” Karena bagi Polsek Tempuling, menjaga BBM sama dengan menjaga senyum warga. Menjaga agar dapur tetap berasap. Agar perahu tetap melaju. Agar Inhil tetap bergerak.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]