Dari Teras ke Hati Warga: Praka M. Adzan Niko, Keamanan Kampung Kerja Bersama Bukan Tugas Babinsa Sendiri


Kuindra – Kamis (7/5/2026) pukul 10.50 WIB, langkah Praka M. Adzan Niko terhenti di teras warga Kelurahan Sapat. Babinsa Koramil 04/Kuindra itu datang bukan bawa perintah. Ia bawa pesan. Pesan tentang cinta tanah air yang tak boleh luntur. Pesan tentang toleransi yang harus dijaga. Karena di Kampung Pancasila, merah putih tak cukup di tiang. Ia harus hidup di dada.

“Babinsa menghimbau kepada masyarakat bahwa setiap warga negara Indonesia berkewajiban dan mempunyai hak yang sama dalam membela negaranya, dan menanamkan jiwa patriot, cinta tanah air dan bela negara.” Kalimat itu disampaikan Praka Adzan Niko pelan. Tapi menusuk ke hati. Karena bela negara tak selalu angkat senjata. Kadang cukup dengan tidak membakar lahan. Cukup dengan tidak sebar hoaks. Cukup dengan saling jaga tetangga beda agama.

“Serta saling bertoleransi merupakan suatu cerminan dan sikap dalam berkehidupan bermasayarakat sehari-hari, beragama berbangsa serta bertanah air sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.” Di Sapat, toleransi bukan slogan di spanduk. Ia praktik. Ia tegur sapa lintas rumah. Ia gotong royong tanpa tanya suku. Praka Adzan Niko ingatkan itu. Sebab Pancasila akan rapuh kalau hanya dihafal, tapi tak diamalkan.

“Babinsa juga mengajak untuk selalu menjaga keamanan, ketentraman di sekitaran kampung.” Keamanan bukan urusan Babinsa sendiri. Ketentraman bukan tugas polisi saja. Ia kerja bersama. Dari ronda malam, dari peduli tetangga, dari tak mudah terprovokasi. “Babinsa menyampaikan kegiatan Komsos ini rutin di laksanakan sebagai wadah silaturahmi, dan tegur sapa sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat desa binaan nya khususnya masyarakat di Kel, Sapat, kec, kuindra, kabupaten Inhil.”

Kamis siang itu, Komsos terasa hangat. Tak ada jarak pangkat. Tak ada tembok seragam. Praka Adzan Niko duduk sama rendah. Dengar keluh warga soal jalan. Dengar cerita pemuda soal kerja. Dengar harap ibu-ibu soal anak sekolah. “Selama kegiatan berjalan aman dan tertib. Dokumentasi terlampir.” Aman karena semua bicara dari hati. Tertib karena semua merasa dihargai.

Praka M. Adzan Niko menegaskan niatnya. “Saya sampaikan ke warga Sapat, bela negara itu mulai dari hal kecil. Jaga kampung biar aman, itu bela negara. Hormati tetangga beda keyakinan, itu bela negara. Ajari anak cinta Indonesia, itu juga bela negara. Pancasila dan UUD 1945 bukan untuk dipajang. Tapi untuk dijalankan. Di rumah, di ladang, di masjid, di gereja. Di mana pun kita pijak, di situ Indonesia harus dijaga,” ujarnya.

Di Kampung Pancasila, kata patriot tak berjarak. Ia ada di tangan petani yang jujur. Ada di guru yang ikhlas mengajar. Ada di pemuda yang tak mau tawuran. Praka Adzan Niko merawat itu. Lewat Komsos, lewat silaturahmi, lewat tegur sapa yang tak pernah putus. Karena ia tahu, desa binaan kuat kalau warganya cinta tanah air.

Dari Kelurahan Sapat, Kamis siang mengirim pesan ke Tembilahan: Komsos jalan, toleransi dirawat, jiwa patriot disemai. Dan selama Praka M. Adzan Niko masih mau datang dengan hati, maka Kampung Pancasila tak akan kehilangan arah. Sebab Indonesia dijaga bukan hanya di perbatasan. Tapi di teras rumah. Di obrolan warung. Di hati warga Sapat.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]