MEDIALOKAL.CO — Mesir memproduksi sekitar 2 juta ton kurma setiap tahun, setara hampir 19 persen dari total produksi global. Angka itu menempatkan negara di tepi Sungai Nil ini sebagai produsen kurma terbesar di dunia, jauh di atas negara-negara penghasil lain di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Produksi kurma bukan sekadar komoditas dagang biasa bagi Mesir. Komoditas ini telah menjadi bagian penting sektor pertanian negara itu, menopang mata pencaharian petani di sejumlah wilayah dan menyumbang devisa dari pasar ekspor. Dengan pangsa hampir seperlima pasokan dunia, posisi Mesir sulit digeser dalam waktu dekat.
Posisi Mesir di Pasar Kurma Global
Produksi 2 juta ton per tahun membuat Mesir menguasai sekitar 19 persen output kurma dunia. Tidak ada negara lain yang mendekati volume itu. Angka tersebut menjadikan kurma sebagai salah satu komoditas andalan pertanian Mesir, bersanding dengan kapas, gandum, dan buah-buahan lain.
Skala produksi sebesar itu hanya mungkin dicapai karena luasnya kebun kurma yang tersebar di sejumlah wilayah, ditambah iklim kering yang cocok untuk pertumbuhan pohon palem. Mesir memang memiliki kondisi alam yang mendukung budidaya kurma sepanjang tahun.
Mengapa Kurma Penting bagi Pertanian Mesir
Bagi petani di sejumlah daerah, panen kurma adalah sumber penghasilan musiman yang menentukan. Rantai nilainya panjang, mulai dari perawatan pohon, panen, pengeringan, pengemasan, hingga distribusi ke pasar domestik dan ekspor.
Pemerintah Mesir memandang sektor ini sebagai bagian dari ketahanan pangan dan penguatan ekspor pertanian. Kurma punya umur simpan relatif panjang sehingga lebih mudah dikirim ke pasar luar negeri dibanding buah segar lain.
Pasar Ekspor dan Tantangan Nilai Tambah
Sebagian besar produksi kurma Mesir diserap pasar domestik, terutama saat bulan Ramadan ketika permintaan melonjak. Sisanya diekspor ke berbagai negara, termasuk pasar di Asia dan Afrika.
Tantangan utama bukan pada volume, melainkan pada nilai tambah. Sebagian kurma masih dijual dalam bentuk curah dengan harga rendah. Pengolahan menjadi produk turunan seperti pasta, sirup, atau kurma kemasan premium menjadi peluang yang belum sepenuhnya tergarap.
Mesir juga menghadapi persaingan dari produsen lain di kawasan, yang mulai memperkuat branding dan standar kualitas ekspor. Tanpa perbaikan mutu dan pengemasan, volume besar belum tentu berbanding lurus dengan pendapatan petani.
Dengan pangsa hampir 19 persen produksi dunia, Mesir punya posisi tawar kuat di pasar kurma global. Persoalannya kini bergeser dari sekadar mempertahankan volume panen ke bagaimana mengerek nilai jual di tingkat petani dan eksportir.