IHSG Koreksi 6,96% di September, Asing Net Sell Rp 10,24 Triliun

IHSG ditutup melemah 6,96% secara bulanan ke level 6.071,14 pada akhir September 2026.
Penulis: Saiful
Selasa, 06 Oktober 2026 | 07:01:01 WIB

MEDIALOKAL.CO — Investor asing mencatatkan jual bersih Rp 10,24 triliun di pasar saham sepanjang September 2026, berbalik dari posisi beli bersih Rp 1,19 triliun pada Agustus. Aksi keluar dana asing itu menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 6.071,14 atau terkoreksi 6,96% secara bulanan. Tekanan serupa menjalar ke pasar obligasi dan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS dan dolar Singapura.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat volatilitas pasar keuangan global menjadi pemicu utama keluarnya dana asing dari bursa domestik. Eskalasi tensi geopolitik dan kenaikan suku bunga global membuat investor memindahkan dana ke aset yang lebih aman.

"Investor asing membukukan net sell di pasar saham senilai Rp 10,24 triliun, sementara di bulan Agustus 2026 lalu tercatat net buy investor asing sebesar Rp 1,19 triliun," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan secara virtual, Senin (5/10/2026).

IHSG Terkoreksi 6,96% dalam Sebulan

Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di level 6.071,14 pada akhir September 2026. Posisi itu turun 6,96% dibandingkan akhir Agustus secara month-to-month.

Meski tertekan, OJK menilai daya tahan dan likuiditas pasar modal domestik masih terjaga. Rata-rata bid-ask spread pasar saham tercatat 1,2%, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya 1,17%.

Tekanan Merata ke Obligasi dan Reksa Dana

Gelombang keluarnya dana asing tidak berhenti di pasar saham. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada September 2026 ditutup di level 439,05 atau turun 0,23% secara bulanan.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), investor asing melakukan net sell Rp 340 miliar sepanjang September. OJK menilai tekanan keluar dari pasar SBN masih terbatas di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global.

Industri pengelolaan investasi juga mengalami penyesuaian. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp 637,07 triliun atau turun 2,42% secara bulanan.

Rupiah Melemah 7,74% Sejak Awal Tahun

Dolar AS menguat ke level Rp 17.900 pada perdagangan Senin siang. Berdasarkan data Bloomberg, Senin (5/10/2026), dolar AS diperdagangkan pada level Rp 17.941, menguat 59 poin atau 0,33%.

Dolar Singapura selangkah lagi menyentuh level Rp 14.000. Mata uang Negeri Singa itu menguat 6,72 poin atau 0,05% ke level Rp 13.997.

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi 7,74% secara year to date (ytd). Pelemahan itu dinilai masih beriringan dengan pergerakan mata uang negara-negara tetangga.

Pemicu: Suku Bunga AS hingga Selat Hormuz

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan pergerakan nilai tukar dipengaruhi faktor global dan domestik, termasuk sentimen dan kebutuhan. Keputusan Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga hingga konflik di Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi menjadi dua di antaranya.

Pelaku pasar mencermati kondisi fiskal AS yang berada di ambang defisit sehingga akan menerbitkan surat utang lebih banyak dengan suku bunga lebih tinggi. Kondisi itu membuat indeks dolar AS (DXY) melampaui level 101 dan menekan mata uang negara lain.

"Ketika DXY, indeks dollar menguat, kira-kira mata uang lain? Melemah," ujar Erwin dalam Taklimat Media di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Dolar Singapura Naik Konsisten Sepanjang 2026

Berdasarkan Google Finance, dolar Singapura bergerak naik secara konsisten pada 2026. Mata uang itu masih diperdagangkan di level Rp 12.900-an pada awal Januari 2026, lalu terus menguat hingga sempat menembus level Rp 14.000 pada Juni, Juli, Agustus, dan September.

Bagi investor, kombinasi koreksi IHSG dan pelemahan rupiah memperlebar tekanan pada imbal hasil portofolio berdenominasi rupiah. Pergerakan DXY dan arah suku bunga AS menjadi dua indikator yang paling layak dipantau dalam beberapa pekan ke depan.

Reporter: Saiful