Ekspor Banten Agustus 2026 Naik 10,37% jadi US$1,20 Miliar, Tembaga Jadi Motor

Nilai ekspor Banten Agustus 2026 mencapai US$1.202,78 juta atau naik 10,37 persen dibanding Agustus 2025.
Penulis: Saiful
Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:21:01 WIB

MEDIALOKAL.CO — Nilai ekspor Banten pada Agustus 2026 mencapai US$1.202,78 juta, naik 10,37 persen dibanding Agustus 2025. Kenaikan ditopang ekspor nonmigas senilai US$1.181,89 juta yang tumbuh 10,24 persen, sementara sepanjang Januari–Agustus 2026 total ekspor provinsi ini sudah menyentuh US$8.863,98 juta atau naik 3,32 persen secara tahunan.

Secara kumulatif, nilai ekspor Banten sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$8.863,98 juta, naik 3,32 persen dibanding periode yang sama 2025. Ekspor migas melonjak 167,17 persen menjadi US$200,99 juta, sedangkan nonmigas naik 1,87 persen menjadi US$8.662,99 juta.

Tembaga Naik 49,25 Persen, Kakao Turun Paling Dalam

Dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar Januari–Agustus 2026, tembaga (HS 74) mencatat kenaikan persentase tertinggi, yakni 49,25 persen atau bertambah US$285,27 juta. Sebaliknya, kakao/cokelat (HS 18) mengalami penurunan terdalam dengan kontraksi 39,30 persen atau susut US$270,99 juta.

Menurut sektor, ekspor hasil industri pengolahan naik 1,63 persen dan pertambangan serta lainnya melesat 54,33 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru turun 9,27 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Tiongkok, AS, dan India Kuasai 35,05 Persen Tujuan Ekspor

Tiongkok menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Banten dengan nilai US$1.405,13 juta, disusul Amerika Serikat US$1.017,01 juta dan India US$614,21 juta. Ketiga negara itu menyumbang 35,05 persen dari total ekspor nonmigas.

Ekspor ke kawasan ASEAN tercatat US$2.317,27 juta, sedangkan ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$922,25 juta. Berdasarkan pelabuhan muat, Tanjung Priok mendominasi dengan nilai US$6.850,05 juta atau 77,28 persen, diikuti Merak US$605,18 juta (6,83 persen) dan Cigading US$573,64 juta (6,47 persen).

Impor Januari–Agustus Melonjak 18,74 Persen

Di sisi impor, Banten membukukan nilai US$29.642,61 juta sepanjang Januari–Agustus 2026, naik 18,74 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Impor nonmigas naik 14,02 persen menjadi US$24.058,34 juta, sementara impor migas melesat 44,50 persen menjadi US$5.584,27 juta.

Pada Agustus 2026 saja, nilai impor mencapai US$3.276,96 juta atau naik 15,46 persen yoy. Kenaikan ditopang impor nonmigas yang tumbuh 18,26 persen menjadi US$2.677,35 juta dan migas yang naik 4,40 persen menjadi US$599,61 juta.

Mesin dan Pesawat Mekanik Naik US$1,94 Miliar

Golongan mesin-mesin dan pesawat mekanik (HS 84) mencatat kenaikan nilai impor tertinggi di antara sepuluh golongan barang utama nonmigas, yakni 72,84 persen atau bertambah US$1.949,94 juta. Perhiasan dan permata (HS 71) justru turun 24,59 persen atau berkurang US$596,98 juta.

Tiongkok masih menjadi pemasok impor nonmigas terbesar dengan nilai US$6.070,99 juta atau 25,24 persen, disusul Australia US$2.621,74 juta (10,90 persen) dan Singapura US$2.395,07 juta (9,96 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai US$4.616,00 juta atau 19,19 persen.

Berdasarkan jenis barang, impor bahan baku/penolong naik 12,77 persen menjadi US$18.940,51 juta. Barang konsumsi tumbuh 22,87 persen menjadi US$2.209,92 juta, sedangkan barang modal naik paling agresif 33,30 persen menjadi US$8.492,18 juta.

Defisit Neraca Dagang Banten Masih Lebar

Dengan ekspor kumulatif US$8.863,98 juta dan impor US$29.642,61 juta, neraca perdagangan Banten sepanjang Januari–Agustus 2026 mencatat defisit sekitar US$20,78 miliar. Lonjakan impor barang modal dan bahan baku mengindikasikan aktivitas industri manufaktur di provinsi ini masih ekspansif, meski perlu diimbangi kinerja ekspor agar defisit tidak melebar.

Bagi pelaku usaha, pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal bisa dibaca sebagai sinyal optimisme produksi. Namun pelemahan ekspor sektor pertanian dan penurunan kakao perlu menjadi perhatian, terutama bagi daerah penghasil di Banten yang bergantung pada komoditas tersebut.

Reporter: Saiful