Hati-hati, Kemaluan Bisa Mengecil Akibat Polusi, Simak Disini

Ilustrasi / Internet

Loading...

MEDIALOKAL.CO — Paparan polusi berpotensi membuat alat kelamin mengecil. Hal ini diungkapkan oleh Dr Shanna Swan — ahli bidang kedokteran lingkungan dan kesehatan masyarakat di Rumah Sakit Mount Sinai, New York City.

Temuan ini dilakukan untuk memperkuat penelitian sebelumnya di Italia pada 2017. Soal alat kelamin mengecil akibat paparan polusi itu ditulis dalam buku: Count Down dilansir News Sky.

Mengutip CNNIndonesia.com, Jumat, 26 Maret 2021, Dr Swan membahas kekhawatiran dunia bila polusi tidak dikendalikan di masa depan, bahkan akan mengancam jumlah sperma, mengubah perkembangan reproduksi pria dan wanita, dan membahayakan umat manusia.

Kekhawatiran itu berdasarkan fakta selama ini. Ia juga telah menemukan bahwa bahan kimia yang disebut ftalat menyebabkan bayi manusia lahir dengan alat kelamin yang potensi cacat. “Akibat polusi ini, semakin banyak bayi yang lahir dengan penis kecil,” tulis Dr Swan.

Loading...

Penelitian Dr Swan dimulai dengan memeriksa sindrom ftalat, pengamatan pertama pada tikus. Dalam penelitian itu, ia menemukan bahwa ketika janin terpapar bahan kimia ftalat, mereka kemungkinan besar akan lahir dengan alat kelamin yang lebih kecil.

Menurut Dr Swan, bahayanya senyawa ftalat memiliki banyak kegunaan pada industri dalam membuat plastik agar lebih fleksibel. Bahan kimia itu juga digunakan untuk membuat mainan yang kemudian sangat membahayakan perkembangan manusia.

Sebab, dijelaskan Dr Swan, bahan kimia tersebut dapat mempengaruhi cara produksi hormon endokrin, mengutip EuroNews.com.

Dr Swan telah mengamati kesuburan pria selama empat dekade terakhir. Setelah mempelajari 185 penelitian yang melibatkan hampir 45.000 pria yang sehat, Dr Swan dan timnya menyimpulkan bahwa jumlah sperma di antara pria di negara-negara Barat telah turun 59 persen antara tahun 1973 dan 2011.

Namun muncul harapan sejak pembentukan European Environment Agency (EEA/Badan Lingkungan Eropa), warga Eropa terpapar polusi partikulat 41 persen lebih sedikit dalam dua dekade terakhir. Hasil itu diyakini bisa menghilangkan kekhawatiran hilangnya fungsi ereksi pada pria.

“Tuntutan untuk perubahan dari warga dan kebijakan telah membantu menurunkan polusi di beberapa bagian Eropa, dan dapat terus dilakukan untuk memastikan bahwa polusi bisa diturunkan di masa depan,” kata Michael Greenstone, direktur Institut Politik Energi di Universitas Chicago. (*)






Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]



Tulis Komentar