Peluh, Doa, dan Doorprize: Kisah Humanis Pagi Bhayangkara ke-80 di Kota Tembilahan

Foto :

Tembilahan, Inhil – Fajar belum sepenuhnya naik, tapi Jalan Gajah Mada sudah berdenyut. Bukan oleh klakson, tapi oleh degup jantung 300 warga Indragiri Hilir yang pagi itu memilih berkumpul bukan untuk berdemo, tapi untuk berlari. Minggu, 21 Juni 2026, menjadi saksi lahirnya energi baru bernama "Fun Run Road to Riau Bhayangkara Run 2026".

Tema "Polri untuk Masyarakat" menggantung megah di garis start. Namun maknanya jauh lebih dalam dari selembar kain. Ia hidup di wajah-wajah yang hadir: ada Wakil Bupati Hj. Yuliantini yang tersenyum menyemangati, ada Kapolres AKBP Farouk Oktora, S.H., S.I.K yang berbaur tanpa jarak, ada Dandim Letkol Arm. Wahib Mustofa Faturrahman yang langkahnya tegap, ada Ketua DPRD Iwan Taruna, S.T., Kajari Sugito, S.H, hingga ibu-ibu Bhayangkari dengan baju olahraga senada.

Pukul 06.30 WIB, doa dipanjatkan. Bukan doa meminta kemenangan, tapi doa memohon keselamatan dan kebersamaan. Setelah itu, tembakan start menggema. Ribuan kaki serentak melangkah. Anak-anak komunitas lari melesat penuh semangat muda. Bapak-bapak Forkopimda berlari dengan ritme napas seorang pemimpin: tenang tapi pasti. Wartawan yang biasanya mengejar berita, kini mengejar garis finish sambil sesekali merekam momen.

Rute 5 kilometer yang dipilih panitia adalah rute yang penuh makna. Start dari Jalan Gajah Mada, lalu menyapa Jalan M. Boya yang ramai oleh pedagang, melintasi Bundaran Pasar Pagi - jantung ekonomi rakyat Tembilahan. Di sana, para pelari disapa pedagang sayur dengan lambaian tangan dan teriakan "Semangat Pak Polisi!".

Perjalanan berlanjut ke Jalan Soebrantas, menembus Jalan Prof. M. Yamin, lalu berbelok ke Jalan Veteran - nama jalan yang mengingatkan pada pengorbanan para pahlawan. Dari sana, rombongan berlari melewati Jalan Pangeran Hidayat, Jalan Hang Tuah, Jalan Sudirman, hingga akhirnya kembali pulang ke Gajah Mada. Setiap meter aspal yang diinjak adalah pengingat: kami berlari untuk kota ini.

Di kilometer kedua, napas mulai berat. Tapi semangat tidak pernah padam. Di Water Station pertama depan Kantor DPRD Kabupaten Inhil, botol air mineral menjadi hadiah paling berharga. Petugas membagikannya dengan senyum. "Minum dulu Pak, Bu, biar sampai finish," ucap mereka tulus.

Tidak jauh dari sana, pos kesehatan siaga dengan tim medis lengkap. Terletak di depan Mapolres Inhil, pos ini adalah bukti bahwa Polres tidak hanya ingin warganya sehat, tapi juga aman. "Lomba boleh sengit, tapi keselamatan tetap nomor satu," begitu pesan yang terus diulang panitia.

Di tengah rute, pemandangan paling mengharukan terjadi. Kapolres AKBP Farouk Oktora berlari berdampingan dengan seorang anak SD dari komunitas pelari. Sang anak kehabisan napas, sang Kapolres menurunkan kecepatan, menepuk bahunya, lalu berbisik, "Pelan-pelan, Nak. Yang penting sampai finish bersama." Itulah "Polri untuk Masyarakat" dalam bentuk paling sederhana.

Sesampainya di garis finish, tidak ada wajah yang muram. Semua merah karena peluh, tapi mata mereka berbinar. Tawa pecah saat doorprize mulai diundi. Ada kipas angin, dispenser, hingga sepeda gunung. Sorakan paling keras justru datang bukan dari pemenang, tapi dari teman-teman yang ikut bersorak untuk rekannya.

Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora S.H, S.I.K menarik napas panjang sebelum memberi sambutan. Dengan kaos olahraga yang basah oleh keringat, ia berkata: “Kegiatan Fun Run Road to Riau Bhayangkara Run ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus sarana mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat sesuai dengan Tema Polri untuk masyarakat”.

Lebih dari itu, AKBP Farouk menekankan bahwa lari pagi ini adalah ajakan. Ajakan untuk hidup sehat, untuk meninggalkan motor sejenak dan menggerakkan badan. Tapi juga ajakan yang lebih besar: ajakan untuk bersinergi. “Lewat kegiatan ini kita memperkuat sinergitas antara Polri, Pemerintah Daerah, TNI, instansi terkait, komunitas olahraga, serta seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Bagi Polres Inhil, Bhayangkara ke-80 bukan hanya tentang upacara dan seremoni. Bhayangkara adalah tentang hadir. Hadir di tengah rakyat, memahami denyut nadi mereka, dan ikut merasakan letihnya. Dari kandang kambing Pak Herman di Pengalihan, hingga lintasan lari di Gajah Mada, Polri ingin menunjukkan wajah humanisnya.

Fun Run ini juga menjadi latihan mental. Latihan mengatur napas, mengatur langkah, dan mengatur hati. Karena pada 19 Juli 2026 mendatang, para peserta ini akan membawa nama Inhil ke Pekanbaru, berlaga di Riau Bhayangkara Run 2026. Dari Tembilahan, mereka tidak hanya berangkat membawa nomor dada, tapi membawa doa seluruh masyarakat Inhil.

Saat acara ditutup, matahari sudah tinggi. Peserta membubarkan diri dengan langkah gontai tapi hati ringan. Jalan Gajah Mada kembali normal, tapi jejak 300 pasang kaki itu meninggalkan cerita. Cerita tentang pagi di mana pangkat dilepas, sekat ditanggalkan, dan semua orang berlari untuk satu tujuan: Indonesia yang sehat dan bersatu.

Polres Inhil melalui kegiatan ini ingin menegaskan satu hal: citra Polri yang humanis bukan dibangun di atas kertas. Ia dibangun di atas aspal, dibangun oleh keringat bersama masyarakat, dan dibangun oleh keyakinan bahwa menjaga negeri dimulai dari menjaga sesama.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]