Pencarian

IUP Mandek, Aset Emas Rp7,03 Triliun Darma Henwa Tak Bisa Dibor

Rabu, 14 Oktober 2026 • 07:40:31 WIB
IUP Mandek, Aset Emas Rp7,03 Triliun Darma Henwa Tak Bisa Dibor
Aset tambang emas PT Darma Henwa Tbk senilai Rp7,03 triliun di Gayo Lues, Aceh, belum dapat dieksplorasi.

MEDIALOKAL.CO — PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatat aset tambang emas senilai Rp7,03 triliun di Gayo Lues, Aceh, tidak bisa dieksplorasi karena Izin Usaha Pertambangan (IUP) anak usahanya, PT Gayo Mineral Resources, terhenti sejak 8 Maret 2026. Pembekuan izin ini memaksa rencana pengeboran periode Februari 2026–Juni 2027 berstatus force majeure. Dampaknya, proyek yang digadang menjadi tumpuan transformasi bisnis Grup Bakrie itu kini hanya menjadi angka di atas kertas laporan keuangan.

Manajemen DEWA mengakui dalam laporan keterbukaan informasi Bursa bahwa tidak ada satu pun lubang bor baru yang dibuat pada kuartal III-2026. Padahal, total pengeboran hingga akhir kuartal II-2026 sudah mencapai 31.485 meter di 102 lubang bor di prospek Upper Tengkareng.

Kegiatan lapangan kini terbatas pada persiapan teknis: penggantian corebox, penataan coreshed, dan kajian teknis. "Analisis petrografi dan mineralogi otomatis menunjukkan kemajuan 15 dari 70 sampel," tulis manajemen.

Pinjaman Rp455 Miliar Tetap Mengalir

Di balik mandeknya izin, DEWA justru sudah mengikat komitmen pendanaan besar. Pada 24 November 2025, tiga hari setelah DEWA mengakuisisi mayoritas saham Gayo Mineral lewat PT Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN), PT Seraya Laju Karya meneken komitmen pinjaman tanpa bunga dengan plafon Rp455 miliar.

Pinjaman itu jatuh tempo 31 Desember 2028. Realisasinya terbilang cepat: dua bulan pertama (November–Desember 2025) sudah cair Rp196,53 miliar. Hingga Juni 2026, total serapan mencapai Rp297,88 miliar atau 65 persen dari plafon.

Dana tersebut kini menopang kegiatan yang statusnya standby menunggu perpanjangan izin. Tanpa kepastian IUP Operasi Produksi, belanja modal yang sudah dikucurkan berisiko tidak menghasilkan produksi dalam waktu dekat.

Taruhan Transformasi Bisnis DEWA

Prospek Upper Tengkareng dan Lower Tengkareng di Gayo Lues memang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru DEWA. Kontraktor tambang Grup Bakrie ini tengah berupaya beralih dari sekadar penyedia jasa penambangan menjadi pemilik tambang emas-tembaga.

Untuk memperkuat posisi itu, DEWA menggandeng SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd, konsultan kelas dunia, guna menyusun domain geologi dan persiapan audit cadangan berstandar JORC. Kunjungan lapangan pertama SRK sudah dilakukan September 2026.

Langkah ini menunjukkan DEWA tidak sekadar menunggu. Namun, seluruh persiapan teknis dan audit cadangan tidak akan berarti tanpa izin eksplorasi yang diperpanjang.

Jalan Panjang Menuju IUP Operasi Produksi

Perpanjangan IUP eksplorasi menjadi IUP Operasi Produksi adalah kunci. Tanpa itu, rencana pengeboran yang mencakup periode hingga Juni 2027 tidak bisa dieksekusi.

Status force majeure yang diumumkan manajemen memberi perlindungan hukum atas keterlambatan, tetapi tidak menyelesaikan persoalan utama: aset senilai Rp7,03 triliun itu belum bisa dikonversi menjadi pendapatan.

Bagi investor, situasi ini menjadi perhatian karena pinjaman tanpa bunga tetap harus dipertanggungjawabkan. Serapan Rp297,88 miliar per Juni 2026 menandakan komitmen finansial sudah berjalan, sementara arus kas dari produksi emas belum terlihat.

Kepastian perpanjangan IUP eksplorasi kini menjadi penentu arah bisnis DEWA. Selama izin belum turun, proyek emas Gayo Lues tetap menjadi aset tidur yang menunggu kepastian regulasi.

Sumber: dunia-energi.com

Follow medialokal.co

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks