Rupiah Menguat 54 Poin ke Rp17.694, Ditopang Keputusan BI Tahan Suku Bunga

Rupiah ditutup menguat 54 poin ke level Rp17.694 per dolar AS, sejalan dengan keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan.
Penulis: Saiful
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 08:31:02 WIB

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga mencatat penguatan, berada di level Rp17.705 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.779 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan ada ruang bagi rupiah untuk stabil di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan negara berkembang.

Keputusan BI Jadi Katalis Utama Penguatan

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan menjadi faktor pendorong utama penguatan rupiah. Arah kebijakan moneter yang konsisten dinilai memberikan kepastian bagi pelaku pasar.

"Kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi," ucap Amru dalam pernyataan yang dikutip dari Kantor Berita Antara.

Dinamika Dolar AS dan Imbal Hasil Treasury

Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury). Dolar AS sempat kehilangan momentum setelah pemerintah AS mengumumkan peningkatan pembelian kembali obligasi jangka panjang, namun tekanan tersebut tidak bertahan lama.

Imbal hasil Treasury yang kembali meningkat membuat kekhawatiran investor terhadap inflasi dan kondisi fiskal AS tetap menjadi perhatian utama. Selain itu, risalah Federal Open Market Committee (FOMC) mengindikasikan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed soal arah suku bunga.

"Prospek kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian pasar," ungkap Amru menambahkan.

Prospek Rupiah ke Depan

Dengan sikap BI yang tetap fokus pada stabilitas, pasar berharap rupiah mampu bertahan di kisaran saat ini. Namun, volatilitas masih berpeluang terjadi mengingat sinyal kebijakan dari bank sentral AS, The Fed, yang belum menunjukkan arah yang jelas.

Investor disarankan mencermati data ekonomi AS terbaru yang bisa menjadi pemicu pergerakan dolar secara global. Fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari risiko investasi.

Reporter: Saiful